,

Jawa Timur Catat Kasus Super Flu H3N2 Tertinggi di Indonesia, Fraksi PDIP Desak Pemprov Segera Aktifkan Satgas

oleh -456 Dilihat
Gunakan "Sosialisasi Super Flu H3N2 oleh Renny Pramana PDIP Jatim".
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana. [dok.Istimewa]

 


MaduraExpose.com – Ancaman virus Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal sebagai “Super Flu” kini menghantui Jawa Timur. Berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per Desember 2025, Jawa Timur menduduki peringkat pertama dengan temuan kasus terbanyak di Indonesia.

Kondisi ini memicu reaksi keras dari parlemen. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim tidak lengah dan segera mengambil langkah kesiapsiagaan dini guna menghindari dampak serius.

Jatim Tertinggi, Risiko Meluas Akibat Mobilitas

Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus Super Flu tersebar di 8 provinsi. Jawa Timur memimpin dengan 23 kasus, disusul oleh Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.

Renny Pramana menegaskan bahwa sebagai wilayah strategis dengan kepadatan penduduk tinggi dan pintu masuk internasional (bandara dan pelabuhan), Jawa Timur memiliki risiko transmisi yang sangat besar.

“Ini bukan isu biasa. Super flu menular cepat dan gejalanya mirip flu biasa. Jatim ini wilayah strategis; jika tidak siap sejak dini, efeknya bisa meluas dan melumpuhkan fasilitas kesehatan,” tegas Renny di Surabaya, Senin (5/1/2026).

Dorong Pembentukan Satgas dan Integrasi Data

Legislator dari Dapil Kediri Raya ini mendorong Pemprov Jatim segera mengaktifkan status kewaspadaan dini daerah dan membentuk Satgas Super Flu lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Data kesehatan kabupaten dan kota harus terintegrasi. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Kita harus mengacu pada pola penanganan pandemi Covid-19 yang sudah terbukti efektif, yaitu pendekatan promotif, preventif, dan kuratif,” ujar Anggota Komisi E DPRD Jatim tersebut.

Beberapa poin krusial yang ditekanan oleh Fraksi PDIP meliputi:

  1. Promotif: Edukasi publik mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan etika batuk sebelum kasus meledak.

  2. Preventif: Optimalisasi Puskesmas dan kader Posyandu untuk deteksi dini di komunitas padat seperti sekolah dan pesantren.

  3. Kuratif: Kesiapan Rumah Sakit rujukan, ketersediaan APD, serta pemisahan alur pasien flu dan non-flu (buffer kapasitas).

Anak-Anak dan Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan

Juru Bicara Kemenkes RI, Widyawati, memaparkan karakteristik penyebaran virus ini berdasarkan temuan lapangan. Mayoritas kasus menyerang perempuan (64%) dan kelompok anak usia 1 hingga 10 tahun (35%).

“Kondisi ini menunjukkan perlunya kewaspadaan lebih, terutama di wilayah dengan kasus tinggi seperti Jawa Timur. Penguatan deteksi dini pada kelompok rentan harus menjadi prioritas utama,” jelas Widyawati.

Skenario Terburuk dan Komunikasi Satu Pintu

Menutup pernyataannya, Renny mengingatkan Pemprov Jatim untuk menyiapkan skenario terburuk, termasuk kemungkinan pengaturan kerja fleksibel ASN hingga penyesuaian kegiatan massal jika situasi memburuk.

“Kepanikan bisa lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Harus ada komunikasi satu pintu agar informasi tidak simpang siur. Publik harus tenang, tapi tetap siaga,” pungkas Bendahara DPD PDI Perjuangan Jatim tersebut. [Tim/Red]

Tentang Penulis: Tim/Red. MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Tinggalkan Balasan