Seni ‘Babi Berdasi’: Menagih Ideologi di Tengah ‘Industrialisasi’ Pendidikan Nadiem!

Terbit: 24 Januari 2022 | 10:14 WIB

YOGYAKARTA, MADURA EXPOSE – Estetika dalam ruang hampa adalah sebuah kenaifan. Premis ini menjadi sumbu utama dalam pemikiran Alex Luthfi Rahman, Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta (2008-2016), yang menegaskan bahwa karya seni sejati haruslah menjadi manifes dari konteks sosial dan pertarungan ideologi.

Dalam bedah buku “Laku dan Lelaku” di Universitas Widya Mataram, Alex membedah evolusi artistiknya yang berpindah dari romantisme menuju periode “Babi Berdasi”. Sebuah terminologi visual yang secara tajam memotret realitas kekuasaan, politik, dan cengkeraman oligarki yang kian nyata di depan mata.

Benturan Ideologi: Pendidikan Seni vs Indikator Kinerja Utama (IKU)

Secara administratif, dunia pendidikan seni hari ini sedang menghadapi tantangan eksistensial. Dr. Irwandi menyoroti adanya diskoneksi antara filosofi penciptaan seni dengan kebijakan Kementerian Pendidikan di bawah komando Nadiem Makarim.

Kebijakan yang mengukur sukses perguruan tinggi hanya dari kecepatan lulusan mendapatkan kerja (link and match), secara teoretis merupakan bentuk Reduksionisme Administratif. Pendidikan seni yang seharusnya berorientasi pada kedalaman karya, kini dipaksa tunduk pada logika pasar tenaga kerja yang mekanistik. Hal ini berisiko melahirkan generasi seniman yang terampil secara teknis, namun tumpul secara ideologis.

Ancaman Ahistorisitas di Era Digital

Wakil Rektor III UWM, Puji Qomariyah, memberikan catatan kritis mengenai minimnya literasi seni. Di tengah banjir informasi digital, perupa muda cenderung menjadi Ahistoris—kehilangan akar sejarah dari para maestro seperti Raden Saleh hingga Hendra Gunawan.

Minimnya rujukan literasi yang ditulis langsung oleh pelaku seni menyebabkan ruang dialog menjadi dangkal. Padahal, dalam kacamata Administrasi Publik, penyediaan sumber literasi adalah tanggung jawab kolektif lembaga pendidikan untuk memastikan transfer pengetahuan tidak hanya berhenti pada masalah metode (analog vs digital), melainkan pada substansi nilai.

Kesimpulan: Seni Sebagai Instrumen Kritik

Seni tidak boleh tenang. Sebagaimana ditegaskan fotografer nasional Risman Marah, seni justru hidup dari konflik dan dinamika keadaan. Ketika seniman berhenti bereaksi terhadap ketidakadilan sosial, maka karya tersebut hanyalah komoditas dekoratif tanpa jiwa.


Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dari Wartawan hingga Doktor, Ini Perjalanan Tika Suhartatik Mengukir Prestasi

Terbit: 3 September 2025 | 00:00 WIB Di bawah gemintang langit Sumenep, lahirlah Tika Suhartatik, seorang pujangga yang menenun takdirnya dengan benang-benang kata.   Bagi jiwanya yang hening, menulis bukanlah…

JAGA KONSTITUSI- FERRY ARBANIA

Terbit: 22 Agustus 2024 | 22:40 WIB HARI INI RAKYAT SATUKAN SUARA TURUN JALAN GELAR AKSI [TOLAK REVISI UU PILKADA] AKSI TOLAK REVISI UU PILKADA AKSI TOLAK REVISI UU PILKADA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *