Sanggar Seni GEMA Raudlatul Iman Gelar Warles Gasebu

0
153

Maduraexpose.com–Sanggar Seni GEMA Raudlatul Iman dan Sanggar SEMAR STIDAR Sumenep Selenggarakan Warung Literasi dan Gairah Seni Budaya (Warles Gasebu)

Setelah sekian lama tidak muncul di permukaan, hari ini 18/12/2021 bertempat di Hall Ibrahimi Kampus Peradaban para santri yang tergabung dalam Sanggar Gema (Getar Sukma) dan Sanggar Semar (Seni Mahasiswa Raudlatul Iman) menggelar bincang santai seputar dunia literasi dan gairah berkesenian yang dalam dasa warsa terakhir kurang mendapat perhatian.

Untuk memantapkan langkah kedua sanggar tersebut sebelumnya diadakan pelantikan yang dilantik oleh Bapak Fauzi, S.Sos. Ketua Yayasan Bidang Usaha, UKM dan Kesejahteraan Sosial dan dilanjutkan oleh kedua pemateri yaitu K. Sahli Hamid, M.Pd.I dan Bapak Mohammad Toyu, MA. Peserta yang terdiri dari mahasiswa dan santri sangat antusias mendengarkan celotehan dari kedua nara sumber tersebut.

K. Sahli Hamid sebagai pamangghi menceritakan riwayat Sanggar Gema yang ia dirikan yang telah banyak melahirkan talenta dalam dunia kesenian. “Sanggar Gema didirikan tahun 1991 dan sempat berjaya selama kurang lebih 20 tahunan. Saatnya sekarang bangkit dan menggairahkan peradaban melalui kreasi kesenian. Literasi menunjukkan orang berkelas yang terus memanfaatkan sumber belajar” tegasnya. Menurut beliau sanggar ini berarti “Getar Sukma” dengan mottonya Seni Untuk Cinta, Cinta Untuk Allah. Sama halnya dengan Sanggar Semar sebagai wadah kesenian bercita-cita menyuarakan kebenaran dari kaum pesantren yang mempunya motto “Nojju ka Se Samar” yaitu Allah SWT.

“Kata Semar lahir dari konsep para wali yang berasal dari bahasa Arab yang berarti paku. Artinya para seniman harus menjadi paku yang menguatkan bangunan peradaban yang nyaris ambruk. Tokoh Semar dalam pewayangan adalah tokoh baik dan bijak yang identitasnya tidak jelas atau samar, seakan orang laki-laki tapi mempunyai perut dan pinggul besar seperti perempuan. Di sisi lain ia seperti tertawa, tapi juga seakan bersedih” pungkas Sahli.

Bapak Toyu atau akrab disapa Mat Toyu membeberkan bagaimana menggairahkan dunia literasi yang saat ini hampir tergilas teknologi. “Melalui sanggar kita akan dibimbing untuk menjadi penulis yang baik, tapi untuk menjadi penulis harus mengasah dan latihan setelah dilalui dengan membaca buku dan fenomena alam” terangnya.

Setelah penyajian diadakan tanya jawab antara peserta dengan pemateri kemudian ditutup dengan kreasi seni seperti baca puisi. Pembacaab puisi pertama dibacakan K. Sahli dengan judul “Perempuan itu adalah anakku”, selanjutnya puisi “Sandhel” karya Pak Toyu yang merupakan spesialis puisi berbahasa Madura. Giliran berikutnya Bapak Fauzi diikuti oleh para santri yang ditutup dengan dendang sholawat Nabi oleh Abd Aziz, Ketua Sanggar Semar yang mempunyai suara emas itu. (Fathol Bari)