Jum’at Bersih Bersama MWC NU dan Camat Guluk-Guluk di Asta KH Syarqawi

Terbit: 1 April 2022 | 14:56 WIB

Sumenep (Maduraexpose.com)– Menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan 1443 H sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah, pagi ini Camat Guluk-Guluk bersama Pemdes dan MWC NU melakukan kegiatan Jum’at bersih di Kompleks Asta KH. Syarqowi Pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.

“Jum’at Bersih bersama Pemdes dan MWC. NU Guluk-Guluk di Maqbaroh *KH. Syarqowi* Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk”, demikian K.Moh Rais Camat Guluk-Guluk melalui pesan yang dibagikan di Grup WA Kompolan Potonah Kiai Rowi, Jum’at 01 April 2022.

Seperti diketahui K.Moh. Rais disamping menbat sebagai Camat dipemerintahan Bupati dan Wabup Sumenep Achmad Fauzi-Dewi Khalifah itu juga dipercaya menjadi Ketua Kompolan Potoh Kiai Mohammad Rowi, salah satu Ulama Kharismatik asal Kecamatan Ganding, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Melansir situs Wislah.com, KH Syarqawi atau K.H. Moh. Syarqawi, seorang ulama pendatang yang lahir di Kudus, Jawa Tengah.

Sebelum menetap di Madura, beliau pernah menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren yang berkembang pada saat itu, baik yang di daerah Madura maupun di luar Madura, yaitu di Pontianak, Kalimantan Barat.

Beliau juga pernah merantau ke negeri jiran, Malaysia dan Muangthai Selatan, tepatnya di daerah Pattaya.

Pernah juga beliau tinggal di Mesir dan Makkah al-Mukarramah. Perjalanan beliau untuk menuntut ilmu ke berbagai daerah ini berlangsung selama sekitar 13 tahun.

Sebelum beliau menetap dan mendirikan Pondok Pesantren Annuqayah di desa ini, beliau sempat menetap di Prenduan, setelah melaksanakan wasiat teman akrabnya saat di Makkah, yaitu Kiai Gemma untuk menikahi istrinya setelah beliau meninggal dunia.

Selama di Prenduan beliau juga bolak-balik Prenduan-Kudus untuk mengunjungi istri pertamanya, Nyai Sabina. Di sana pula, beliau membuka pengajian al-Qur`an dan ilmu-ilmu keislaman untuk masyarakat sekitar.

Namun, setelah kurang lebih 14 tahun (1923 –1307 H.) beliau tinggal di Prenduan, kota kecil daerah pesisir yang cukup ramai dan berpenduduk agak padat itu dipandang kurang layak dan nyaman untuk membangun sebuah pesantren,

sehingga pada tahun 1887, beliau pindah dan menetap di desa Guluk-Guluk, daerah pedalaman sekitar 8 km sebelah utara Prenduan dengan maksud mendirikan pesantren.
(Fathol Bari/MaduraExpose/WislahCom)

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

RAHASIA TANEROS

Terbit: 29 Maret 2026 | 18:17 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Di balik deburan ombak Pesisir Beluk Ares, Kecamatan Ambunten, tersimpan sebuah rahasia geografis yang jarang disadari publik. Pantai Taneros (atau…

Memoles Tuah Janur di Pantai Lombang

Terbit: 27 Maret 2026 | 21:28 WIB SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya dalam mentransformasi tradisi lokal menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah. Melalui penyelenggaraan Festival Ketupat 2026 di Pantai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *