Permata Ilmu Berpulang

Terbit: 9 Maret 2026 | 16:09 WIB

KUALA LUMPUR – Kabar duka menyelimuti jagat intelektual Islam. Profesor Diraja Tan Sri Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, cendekiawan dan pemikir ternama peradaban Islam, wafat pada usia 94 tahun di Kuala Lumpur, Malaysia, Ahad (08/03/2026) pukul 18.47 waktu setempat. Kabar meninggalnya filsuf besar ini dikonfirmasi oleh Menteri di Departemen Perdana Menteri (Bidang Agama), Dr. Zulkifli Hasan.

Kepergian Al-Attas bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, melainkan padamnya obor ilmu dan adab di dunia Islam. Secara administratif dan akademik, warisan beliau sangat masif, mencakup pendirian lembaga-lembaga fundamental seperti Angkatan Pemuda Islam Malaysia (ABIM), Universitas Nasional Malaysia (UKM), serta Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC).

Sebagai pemegang gelar Profesor Diraja—gelar tertinggi dan paling terhormat di Malaysia yang dianugerahkan oleh Raja—Al-Attas diakui sebagai pemikir kontemporer yang sangat disegani baik di dalam maupun luar negeri. Tesis-tesisnya mengenai “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” dan kritik terhadap peradaban Barat telah menghasilkan lebih dari 30 buku yang menjadi rujukan utama dalam studi filsafat, teologi, dan sejarah Islam.

Atas kontribusi besar tersebut, pada tahun 2024, beliau dinobatkan sebagai salah satu dari “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Yordania. Jenazah almarhum direncanakan disemayamkan di Masjid At-Taqwa, Taman Tun Dr Ismail (TTDI), sebelum dimakamkan di Pemakaman Islam Bukit Kiara.

Red./Editor: Ferry Arbania | MaduraExpose.com

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *