Sumenep (Bioskop-Maduraexpose.com)- Saat-saat menegangkan pernah terjadi pada Pilkada Sumenep 2005 silam. Saat itu Kapolres Sumenep Ajun Komisaris Besar Pol. Budiono Sandi menurunkan seluruh personelnya, mulai dari Polres hingga jajaran Polsekpun dikerahkan. Tak hanya itu, sekitar 100 personel Brimob juga diturunkan demi mengamankan Pilkada Sumenep 2005.

Menurut Budiono, dari 2.877 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar disejumlah titik, lebih dari seratus TPS dinyatakan sangat rawan yang perlu pengamanan ekstra dari aparat kepolisian. Ia juga menyinggung catatan sejarah, Sumemnep pernah memiliki sejarah kekerasan Pemilu pada tahun 1997 berupa pembakaran kantor Partai Golkar.

Saat itu ada 5 pasangan calon (paslon) yang bersaing ketat, yakni KH.Ramdlan Siraj- Moch Dahlan (PPP dan PPNUI), KH.Abuya Busyro Karim – Moch Romli (PKB),KH Abdul Muiz Ali Wafa-Siti Aisyah (Koalisi Rakyat Bersatu-gabungan partai gurem seperti PBR, PKPB dan PNI Marhaen) dan Abdul Madjid Tawil-KH Abdul Wakir Abdullah (Gokar dan PKPI).

Berbeda dengan Pilkada yang akan digelar tahun ini, pasangan calon hanya ada dua, yakni Busyro Karim-Achmad Fauzi dan Zainal Abidin-Dewi Khalifah. Nama paslon yang terakhir ini mendapat dukungan penuh dari KH.Ramdlan Siraj yang pernah menjadi Bupati Sumenep selama dua priode.

“Dengan majunya Kiai Ramdlan sebagai pendukung utama Bapak Zainal Abidin-Dewi Khalifah, ini akan sangat menyulitkan langkah incumbent merebut kursi bupati dalam Pilkada 9 Desember 2015. Bagaimanapun juga, pendukung dan loyalis Pak Ramdlan sangat kuat dan setia sampai detik ini”, ujar Syaifur Rohcman, pengama politik dari GPMD Forum Madura, Kamis 13 AGustus 2015.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

(mex/fat/kzh/fer)