Inilah Naskah Lomba Baca Puisi HUT ke-2 MaduraExpose

0
1660

Ziarah Pukau
Puisi Karya:Ferry Arbania
MENJELANG Tujuh hari tujuh langit tujuh bumi tujuh matahari dan tujuh penghasilan manusia puncak dari keterasingan diri.Dua hati tujuh samudera,satu cinta dua tubuh,butuh Asmara,hijau mengalir dari pucuk cemara.Sekuntum rindu diterbangkan angin,hinggap didahan-dahan resah .Jemari dingin menyembul dari jendela sukma yang tengah menatap segelas anggur putih kesuciaan .

Dari menit kemenit tujuh gunung tujuh warna tujuh belasan ,nuansa Pubertas yang pulang pergi dalam kanvas sejarah,kemerdekaan tergadai,,rintik hujan yang menetas,terkelupas menjadi puting badai,meneteki pedih bumi yang geram.
“selamat datang pasukan surga”.
Kilau mutiara telah menggelantung pada lengkung kitab turast,ikhtibar yang menorehkan kisah pelaut,gembala bermalam di sehelai sprey basah gunung-gunung kerucut hitam,senantiasa mengumandangkan aromanya yang berdenyut-denyut ,mengantongi sebatang sigaret dari surga;andai kelam tak mengalungkan pelangi pada buah pantatmu yang kenyal dan menguning ,mungkin sajak kemarau sudah gugur dalam orgasme waktuku,malam ini

Kepak rindu telah bersayap-sayap dalam rumah tak berpintu;pun ketika bibir tasbih bersahutan dalam isak tangis pengantin,keranda hati kita yang bergetar,kembali datang diusung bimbang.Cakrawala luas janji kita,adalah sarang kecemasan burung di nadi ku,dan bulan sabit jingga itu,adalah rindang tatap mu .yang kutemukan dipertiga malam,lantaran
Dalam di jiwa ada batu
sungai-sungai dan laut kesangsian lumut
mencipta percik dari ringkik musim gugur,
sampai pun kaki Ismail terjulur kerahim zamzam
Ibrahim datang dengan haus pedangnya,
mengembalakan seruling Daud yang meliuk-liuk dalam irama hati
“duh”.

pengantin itu,kembali membuka nyayian pantatmu
meramu hasrat menjadi ayat,
wujud Qidam Baqa’
a ,I,u,
aura
telah menindih kepura-puraan
kembang kempis ombak
bernapas dalam gemetar jantung
ketika laut maha menagih janjiku
aku tak bisa berujar kecuali mengerang,bahkan pada burung yang bersiul dijendela bibir mu yang lembab,
aku lupa menjawab panggilan subuh-Mu

“terlalu nikmat untuk sekedar pantat”.Kalimat arif yang menyilet
namun terlalu hitam noktah kamar mu memalam-i hasrat diubun-ubunku

bulan dirahimmu telah kubalut dengan riuh bom.

maka perih yang tumbuh dari pergesekan kelamin itu
telah membangunkan jerit debu-debu diranjang mu

keniscayaan jagad ?
menguntum aroma sayang,
lalu kucipta kembali kamar bebunga
dengan salam kehangatan Rabbku,
Jakarta,2011

#

Semalam dikamar facebook
Karya:Ferry Arbania

Semalam dikamar facebook,
kuciumi aroma napasmu dengan cinta
kubelai engkau dengan lena masa laluku
yang mengering diranjang bulan

Semalam di kamar facebook,
kujelajahi liuk wajahmu dengan gambar
sambil membisiki dinding hati yang termangu
masihkah kau simpan sekerat hajat yang membiru

semalam dikamar facebook,
kuciumi engkau dengan sentuhan pukau
lalu, pagi ini,
kau sapa aku dengan semerbak auramu

semalam dikamar facebook,
kunikahi engkau saat pandangan pertama.

#

Nyanyian Kudus Dan Pelacur Kota
Karya: Ferry Arbania

pelacur-pelacur jalanan itu
adalah sempalan bunga yang tertusuk ilalang.
Dihatinya masih ada wewangian kudus yang menyeberbak.
Melantunkan syair dajjal dan berhala.

pelacur-pelacur jalanan itu
adalah puisiku yang mabuk dalam syair patah hati
mengembalakan tangis dan rinduku yang membatu,
hingga malam berhadiah bulan, kutemukan mabuk dalam lumatan birahi.

pelacur-pelacur itu mendaki jalan setapak
menyingkap kain putih cinta
memelorotkan celana kesayangan dengan perih
bahkan dibibirnya yang memerah, dia mendekatiku,
meciumiku dengan selembar tanya “Apakah engkau ingin kupuaskan..??

pelacur-pelacur jalanan itu adalah segerombol tangis
yang disudahi dengan kenyal kesal dan dendam
sebab tak ada lagi yang hendak dibanggakan,
meski hati meratap dalam nyanyian sorgawi
menganyam air mata
tatkala pejantan membacok selangkangannya yang patah jadi sia-sia

pelacur-pelacur itu tak hendak menelanjangi keagungan Tuhan
mereka hanya ingin menangis disetiap dada lelaki,
karena sang pemuja cinta telah melahirkan pelacur-pelacur kota.

pelacur-pelacur jalanan itu adalah titian api
darah mereka membara jiwa mereka terpanggang dalam syahwat yang dijinakkan,

dan pelacur-pelacur jalanan itu
telah menggubah syair berhala menjadi nyanyian kudus talbiyah
bernyanyi dalam syahadat cinta yang agung

pun ketika dadanya ditelanjangi maut,pelacur-pelacur itu meregang,
meraung dan merintih-rintih dalam nikmatnya pengharapan.

#

Puisi Mabuk dan Gerah Kelamin
Karya: Ferry Arbania

Suatu saat kau pasti datang padaku, pasti.
hari ini kau tak bisa bicara padaku, sebab aku pejabat
dan besok giliranmu mencerca di media, menuduhku maling dan tikus berdasi, mercy pula.

rawa-rawa dan musik awara kini tak lagi diperdengarkan,
dan kau pasti menfonisku bajingan, kolod dan tak mau berubah, “bedebah”.

caci maki di negri sunyi, sama halnya meneriaki berhala-berhala itu
entah itu yang mana, kau pasti juga tidak tahu, persis seperti aku. “Mati kutu”.

dulu, sepuluh tahun sebelum suramadu diresmikan SBY yang presiden
anak laki-laki dan perempuan berebut kitab suci,
tapi kini, kesucian gadis-gadis itu malah diperebutkan,
silih berganti dikorankan, ditelivisikan dan radio ku juga ikut mengabadikan desah dan jerit perih mereka di sebuah berita.

orang-orang sesudah kemerdekaan laut jawa- madura,
senang membaca berita, beruporia dengan informasi aktual dan tekini,
tapi kita tetap miskin kesadaran, miskin kepedulian dan kata-kata
untuk menentang kegelapan di ruang hati.

sembilan bulan ibu mengandung, menanti tangis sang buah hati,
tapi tiga bulan perawan-perawan kita diracuni sperma,
sebelum tuhan mengetuk palu, senggama seringkali dimulai sebelum ijab qobul,
kepemimpinan lebih sedikit diteladani, tetapi yang subur adalah caci maki ketidak puasan.

ada apa dengan negeri percikan surga ini,
ibu-ibu mabuk dalam lautan pesan singkat disebuah hp,
merapal rindu, melukis kebohongan dengan gincu kepura-puraan.

tuan muda yang terhormat berorasi dikebun-kebun jati,
sambil sesekali meluruskan dasi kehormatan,
sementara puan muda dirumah sering kesakitan pantat, sakit punggung dan sesak napas,
lantaran semerbak sayangnya tak pernah diremas dan diraba.

mau kemana lagi kita,
dimana-mana perselingkuhan meraja lela,
perceraian memupuk data pengadilan agama
namun anehnya bukan dari keluarga dan saudara-saudara kami yang miskin kekuasaan.

perempuan, jabatan dan uang negara,
jangan lagi di dadu, jangan lagi dikocok-kocok,
mari simpan kelamin ini, dirahim istri kita sendiri.

#
Seumpama melati
Karya: Ferry Arbania

kucari engkau ditaman asri
kubingkai rasamu dan asaku menjadi satu
lalu kuikat semerbak cinta ini dengan kesetiaan
Seumpama Melati
kucintai engkau dengan separuh sajak-sajakku
dan separuhnya lagi dengan jiwa
kuharap tak ada yang pergi
keculai untuk saling memadu
Seumpama Melati
kuabadikan abjad-abjad namamu
dalam kanvas darah dan airmata
memesraimu dalam aksara jelita
Melatiku, peluklah aku
sebelum sajak-sajakmu kuhabiskan disecangkir kopi.