(SUMENEP, MaduraExpose.com) – Gejolak di Selat Hormuz mungkin terasa jauh, namun dampaknya nyata terasa hingga ke pasar-pasar tradisional di ujung Timur Madura. Saat Dolar AS mulai “perkasa” akibat ketidakpastian global, Rupiah yang loyo harus menanggung beban berat yang ujung-ujungnya bermuara pada satu tempat: Dapur Anda. Inilah efek domino perang yang bukan lagi sekadar tontonan Hollywood, melainkan ancaman nyata bagi harga kebutuhan pokok.
Secara teoritis, dalam kacamata Ekonomi Publik, depresiasi nilai tukar akibat tensi geopolitik memicu apa yang disebut sebagai Imported Inflation. Indonesia, yang masih bergantung pada impor sejumlah komoditas pangan dan bahan baku industri, secara otomatis akan mengalami koreksi harga di tingkat ritel.
Dari Selat Hormuz ke Pasar Lokal
Konflik Timur Tengah yang melibatkan aktor-aktor besar seperti yang diulas dalam seri Pentagon sebelumnya, telah mengganggu jalur logistik global. Kenaikan harga minyak dunia dan biaya logistik internasional memaksa struktur biaya produksi nasional membengkak. Hasilnya? Harga beras, minyak goreng, hingga kedelai ikut merangkak naik, mengikuti irama Dolar yang kian tak terbendung.
Dalam perspektif Administrasi Pembangunan, pemerintah daerah dan pusat kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan eksternal yang bersifat unpredictable. Kebijakan subsidi dan intervensi pasar bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk meredam “api” geopolitik agar tidak membakar daya beli rakyat kecil.
Akal Sehat di Tengah Krisis Harga
Meminjam logika Rocky Gerung, kita seringkali dibuat “dungu” dengan narasi kemandirian pangan yang hanya manis di atas kertas, namun pahit di atas piring. Saat Rupiah melemah, kita baru menyadari betapa rapuhnya ketahanan domestik kita terhadap guncangan global. Geopolitik bukan hanya soal siapa menang siapa kalah dalam perang senjata, tapi siapa yang paling menderita saat harga sembako tak lagi ramah di kantong. [Tim/Gim/Red]







