SUMENEP, (MaduraExpose.com) – Saat media nasional sibuk menyuguhkan tabel angka kurs terbaru di Bank Mandiri hingga BCA, publik seringkali luput memandang Arsitek Kebijakan di tingkat global yang membuat Dolar AS kian dominan. Melambungnya nilai tukar ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan dampak dari Instrumentalisasi Konflik di Timur Tengah. Jutaan pasang mata mungkin melihat ini sebagai perang militer konvensional, namun secara Teori Anggaran Publik, ini adalah mekanisme redistribusi kekayaan global yang memaksa perbankan nasional kita melakukan koreksi kurs.
Di level lokal, guncangan moneter ini termanifestasi secara nyata melalui penyesuaian nilai tukar di perbankan besar tanah air. Ketika arus modal global berpindah secara masif ke aset aman (safe haven) akibat ketidakpastian di Selat Hormuz, Rupiah terpaksa “menepi”. Dampaknya bukan sekadar angka di tabel kurs, melainkan merangkaknya harga kebutuhan pokok yang mulai meresahkan dapur rakyat melalui fenomena Imported Inflation.
Bukan Sekadar Angka di Layar ATM
Penyesuaian kurs di BCA dan Mandiri adalah refleksi dari biaya proteksi nilai yang kian mahal di pasar internasional. Dalam perspektif Administrasi Pembangunan, pelemahan Rupiah ini memicu beban tambahan pada struktur biaya logistik dan produksi pangan nasional. Meminjam kacamata Akal Sehat ala Rocky Gerung, publik seringkali dibuat “dungu” dengan hanya melihat harga di pasar tanpa memahami bahwa setiap sen kenaikan kurs adalah “instrumen” dalam persaingan ekonomi global yang didesain secara matang.
Teater geopolitik yang kita ulas dalam seri Pentagon sebelumnya membuktikan bahwa ketahanan ekonomi domestik kita sangat sensitif terhadap dinamika di koridor kekuasaan global. Saat ketegangan meningkat di Teheran atau Washington, efek getarnya segera terasa hingga ke label harga beras dan minyak goreng di pasar-pasar tradisional Indonesia, termasuk di Madura.
Kesimpulan: Melawan Kedunguan Ekonomi
Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton pasif terhadap fluktuasi ekonomi. Memahami bahwa Dolar yang perkasa adalah produk dari desain besar kekuatan dunia adalah langkah awal menuju kedewasaan nalar. Jika perbankan nasional terpaksa menaikkan kurs, maka Madura Expose berkewajiban menyingkap tirai kebijakan di baliknya, agar rakyat tidak sekadar menjadi korban dari perebutan “kue” ekonomi para elit global.[*]






