Dua pasangan calon (paslon) Busyro Karim-Ahmad Fauzi dan Zainal Abidin-Dewi Khalifah telah usai bertarung di gelanggang Pilkada Sumenep pada 9 Desember 2015 lalu.

Jauh hari sebelumnya, tepatnya tanggal 9 September 2015, Lembaga Survei Indepth menyampaikan prediksinya, bahwa perebutan kursi bupati dan wakil bupati kali ini, tak ubahnya sebuah ‘Big Match’ dari  dua kekuatan dua ulama besar yang sama-sama memiliki pengaruh besar ditengah masyarakat. Begitu juga dengan prediksi politik uang tak luput dari prediksi sebelumnya.

 

Andri Riswandi, Head Of Consultant Indepth meyakini pada proses pelaksanaan Pilkada serentak 2015, yang dibekali Undang-Undang Pilkada Nomor 1/2015 dan PKPU Nomor 12/2015 ini menjadi tontonan intrik politik yang cukup menarik bagi masyarakat Sumenep. Hingga tak salah, kalau kemudian Ia memberi judul surveinya  dengan diksi yang merumit, “Mencermati Persiapan Big Match Pilkada Sumenep 2015”.

Indepth mencatat kekuatan dari calon incumbent masih sangat diperhitungkan ketika berhadapan dengan rival sekaliber Zainal Abidin yang merupakan mantan Kepala Bappeprov Jawa Timur, yang dikenal dekat dengan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.  

Pihaknya memprediksi kekuatan ZA ini menjadi kuda hitam yang telah berhasil menggusur  HM Sahnan  yang dikenal sebagai calon anti Busyro.  Namun hal inilah yang membuat peta politik, dan sekali lagi, sesuai prediksi, pada akhirnya, tokoh kepulauan itu merapat ke kubu petahana sebagai bentuk sakit hati terhadap ZA atau setidak terhadap Soekarwo yang telah memborong semua kursi partai di dewan, kecuali PKB, PDIP dan NasDem.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

 

Seperti apapun hasil akhir Pilkada Sumenep, ZA telah menyajikan kita masyarakat Sumenep dengan sebuah strategi politik yang ciamik dengan menggandeng tokoh wanita berpengaruh dar trah kiai, yakni Nyai Eva (Dewi Khalifah), Ketua Muslimat NU di Madura dengan track record sebagai mantan pesaing berat Busyro Karim pada Pilkada Sumenep 2010 silam.

 

Mampukah si “Kuda Hitam” dan Ketua Muslimat NU ini membebaskan diri dari kekalahan, sementara dugaan politik uang sudah mulai mereka kumandangkan, begitu juga indikasi kecurangan dan gerakan masif mulai diperdengarkan? Sedu sedan dan kemarahan para pendukung mereka, mampukah merubah keadaan menjadi lebih baik.

Setidaknya “menanggulangi” kekalahan yang dipolitisasi dengan kecurangan??  Terbaru, pada Sabtu (12/12/) sore kemarin, sekitar pukul 15.30 WIB, Syaiful Bahri, salah satu pendukung paslon Zainal Abidin-Dewi Khalifah mendapat teror dan ancaman akan dibunuh, karena melakukan upaya pencocokan surat suara yang diduga sudah banyak yang meninggal.

Kasus ini terus bergulir dan pihaknya mengaku sudah memberitahukan ke pihak kepolisian terdekat. Kasus ini dipastikan terus bergulir hingga ke meja Panwaslih untuk ditindak lanjuti.

 

(Redaksi)