Sumenep, Madura Expose – Guncangan politik di Sumenep kini bukan lagi bisik-bisik, melainkan genderang perang yang ditabuh langsung oleh Bupati Achmad Fauzi. Dengan amarah besar dan komitmen tanpa kompromi, ia menyatakan perang total terhadap jaringan rokok ilegal dan skandal “ternak cukai” yang telah mencoreng nama baik pemerintahannya. Peristiwa penangkapan 1,49 juta batang rokok ilegal di Tol Pasuruan bukan hanya membuka aib, tetapi juga memicu tekad Bupati Fauzi untuk membersihkan Sumenep dari praktik bisnis haram yang merugikan negara miliaran rupiah. Ia menegaskan, tidak ada tempat bagi mafia yang merusak integritas daerah dan merampok hak rakyat.
Sebuah Pelarian yang Menggugah Kemarahan
Kemarahan Bupati Fauzi berawal dari insiden yang terjadi pada 20 Mei 2025. Sebuah truk bermuatan jutaan batang rokok ilegal berhasil lolos dari Sumenep, yang merupakan titik keberangkatan. Meskipun truk itu akhirnya ditangkap oleh KPPBC Tipe Madya Pabean A Pasuruan dan Kejaksaan Negeri Pasuruan di Tol Gempol–Pasuruan, fakta bahwa kargo tersebut bisa melenggang keluar dari Pulau Garam menyulut pertanyaan fundamental. Ini menjadi bukti adanya lubang besar dalam pengawasan dan sebuah pengkhianatan yang tidak bisa ditoleransi, yang kemudian menjadi alasan kuat bagi Bupati Fauzi untuk mengambil tindakan drastis.
Protes Diam-diam, Sikap Tegas yang Menggema
Komitmen Bupati Fauzi tidak hanya tercermin dari kata-kata, tetapi juga dari tindakannya. Hal ini terlihat jelas saat ia secara mencolok tidak hadir dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digagas oleh sekelompok wartawan dan “Paguyuban Rokok Lokal” pada 17 Juli 2025. Ketidakhadiran ini bukan karena bentrok jadwal, melainkan sebuah protes diam-diam agar siapapun yang berkecimpung dalam industri rokok tersebut tidak ada yang coba-coba melanggar ketentuan sekecil apapun dan tetap mengikuti regulasi yang ada.
Nama yang Dicatut, Kepercayaan yang Dikhianati
Inti dari kemarahan Bupati Fauzi adalah skandal “ternak cukai” dan pencatutan namanya oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Modus operandi ini melibatkan produsen rokok legal yang memesan pita cukai asli, namun diduga kuat menjualnya kepada produsen rokok ilegal. Yang lebih memicu murka, para pelaku bisnis haram ini “menjual” nama Bupati Fauzi seolah-olah mengantongi restu dan perlindungan politik. “Saya sangat marah dan geram nama saya dicatut. Ini adalah pencemaran nama baik yang sangat serius,” tegas Bupati Fauzi. Baginya, ini adalah serangan personal dan sabotase terhadap integritas pemerintahannya yang berkomitmen memberantas ilegalitas, bukan melindunginya.
Perintah Langsung, Tumpas Habis Sampai Akar
Sebagai bentuk nyata dari komitmennya, Bupati Fauzi telah secara terbuka dan tegas memerintahkan aparat penegak hukum, terutama Bea Cukai Madura, untuk bergerak cepat. Ia mendesak agar jaringan rokok ilegal ini diusut tuntas, perusahaan yang bermain curang dibekukan, dan izinnya dicabut. “Jangan beri mereka ruang gerak sedikit pun!” seru Fauzi, mengukuhkan janji pemerintahannya untuk menegakkan keadilan.
Perang yang dikibarkan Bupati Achmad Fauzi bukan sekadar retorika. Ini adalah pertarungan demi menyelamatkan pendapatan negara, melindungi industri lokal yang taat aturan, dan mengembalikan kepercayaan publik. Dengan langkah-langkah tegas ini, ia membuktikan komitmennya untuk membersihkan Sumenep dari praktik-praktik ilegal, menjadikannya sebuah teladan bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.








