Bukhori Yusuf Minta Produksi Alquran Ditingkatkan

0
61

MADURAEXPOSE.COM––Anggota Komisi VIII DPR, Bukhori Yusuf meminta produksi Alquran untuk kebutuhan nasional segera ditingkatkan. Hal ini disampaikannya secara langsung kepada Kepala Unit Percetakan Alquran (UPQ) Kementerian Agama, Jammaludin M. Marki, saat melakukan kunjungan ke Unit Percetakan Alquran (UPQ) Kemenag yang berlokasi di Ciawi Kabupaten Bogor, Kamis (23/7/2020).

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan reses ketua kelompok komisi (poksi) PKS di Komisi VIII DPR tersebut yang turut mengawasi bidang keagamaan.

“Sejujurnya saya sedikit prihatin begitu mengetahui produksi mushaf Alquran kita masih minim. Dengan melihat penduduk muslim di Indonesia yang berjumlah sekitar 225 juta, setidaknya dibutuhkan 4-5 juta eksemplar mushaf Alquran per tahun untuk mencukupi kebutuhan secara nasional. Sayangnya, UPQ saat ini baru mampu mencetak sekitar 1 juta mushaf Alquran per tahun,” tuturnya.

Lebih lanjut, Bukhori mengusulkan agar sarana dan prasarana UPQ perlu ditingkatkan seperti peremajaan mesin cetak dan perluasan lahan dalam rangka meningkatkan kapasitas penerbitan Alquran.

Berdasarkan data yang dihimpun dari UPQ, unit pelaksana kerja di bawah Ditjen Bimas Islam ini telah memproduksi Alquran sebanyak 1.595.000 eksemplar yang terdiri dari Alquran Terjemah, Mushaf Standar, Juz Amma, dan Yasin pada tahun 2019. Meskipun demikian, jumlah ini masih jauh dari target, yakni 5 juta per tahun.

Terdapat sejumlah faktor yang membuat jumlah penerbitan sampai saat ini masih terbatas, antara lain sarana dan prasarana UPQ belum memenuhi standar percetakan canggih, lahan yang terbatas, serta SDM yang memerlukan pembenahan dan pengembangan.

Pada tahun awal operasionalnya, jumlah distribusi mushaf Alquran dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang fluktuatif. Sebagai catatan, pada tahun 2016 UPQ berhasil mendistribusi 35.000 eksemplar mushaf. Angka ini kemudian mengalami peningkatan signifikan sekitar 9 kali lipat pada 2018 sehingga menyentuh angka 280.000 eksemplar. Namun, pada 2019 angka tersebut justru mengalami penyusutan secara drastis sampai di angka 55.000 eksemplar.

Selain menyoroti produksi mushaf Alquran yang minim, anggota baleg Fraksi PKS ini juga mendorong agar UPQ menjadi leading sector dalam upaya memberantas buta huruf Quran di Indonesia.

“UPQ harus menjadi garda terdepan dalam memberantas buta huruf Alquran di Indonesia. Menjadi ironi sebenarnya jika melihat sebagian besar saudara kita masih belum bisa baca (red; Alquran) meskipun 87% penduduk Indonesia adalah muslim. Sebab itu, UPQ harus melihat ini sebagai peluang amal dengan terus meningkatkan kapasitasnya dari segala aspek. Kami sangat mendukung UPQ menuju arah tersebut tersebut,” ujarnya.

Dalam rangka mengatasi persoalan tersebut, pada tahun 2016 Kemenag pernah mencanangkan program Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (Gemar Mengaji) untuk meningkatkan tingkat melek Alquran bagi masyarakat di seluruh provinsi serta kabupaten/ kota di Indonesia.

Kendati demikian, menurut hasil riset dari Institut Ilmu Alquran (IIQ) pada tahun 2018 masih tercatat sekitar 65% masyarakat Indonesia buta huruf Alquran. Angka statistik ini terbilang cukup tinggi mengingat 87,2% masyarakat Indonesia adalah muslim.*