Berkas Pembunuhan Aktivis Anti Tambang Lumajang Dinyatakan P-21

0
1072

Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menyerahkan 27 tersangka kasus dugaan pembunuhan dan pengeroyokan aktivis anti tambang pasir Lumajang, Salim Kancil dan Tosan, ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, (Kamis 21/1/16). Tak lama lagi perkara ini akan segera disidangkan.

Proses penyerahan para tersangka ini dilakukan dari ruang tahanan Markas Polda Jatim, sekitar pukul 10.30 WIB dengan menggunakan dua mobil tahanan, dikawal satu unit mobil Patwal dan personel Sabhara bersenjata lengkap.

Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi RP Argo Yuwono mengatakan, berkas 27 tersangka ini sudah dinyatakan lengkap atau P21. Mereka terbagi dalam delapan berkas secara terpisah.

“Empat berkas untuk pidana umum (pembunuhan, pengeroyokan), empat berkas untuk illegal mining dan pencucian uang,” kata Argo.

Sebenarnya, lanjut dia, kasus tambang Lumajang terbagi menjadi 15 berkas. Namun, baru 8 berkas yang dinyatakan sempurna oleh jaksa. Sementara sisanya, masih dalam tahap penelitian jaksa. “Para tersangka diserahkan ke Kejari Surabaya,” jelas Argo.

Terpisah, Kajari Surabaya Didik Farkhan menegaskan, selain tersangka, kepolisian juga akan menyerahkan sejumlah barang bukti. Di antaranya baju, alat penerangan senter, alat kejut listrik bertengangan tinggi dan alat-alat pemukul yang dipakai para tersangka untuk menghajar Tosan.

Penyerahan tahap dua (tersangka dan barang bukti) ini menurut Didik, menguatkan indikasi, bahwa kasus Salim Kancil akan disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Sedangkan keinginan sejumlah pihak yang mendorong kasus ini disidangkan di PN Lumajang ditolak.

“Ada 26 berkas yang dinyatakan sempurna, sisanya yang 9 masih dalam proses. Berdasarkan surat Ketua Mahkamah Agung, kondisi persidangan di Lumajang tidak memungkinkan dan sesuai pasal 85 KUHP maka persidangan dilimpahkan ke PN Surabaya,” ungkap Didik.

Sebelumnya, Humas PN Surabaya, Burhanudin, mengaku sudah menerima koordinasi dari kejaksaan, bahwa demi alasan keamanan, kasus Salim Kancil akan disidangkan di Surabaya, bukan di Lumajang. “Tinggal menunggu fatwanya dari Ketua Mahkamah Agung,” ujarnya.

Seperti diketahui peristiwa berdarah di Desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Lumajang, ini terjadi pada 26 September 2015 lalu. Saat itu, puluhan anggota kelompok pro tambang pasir ilegal mengeroyok Salim Kancil dan Tosan karena kerap mengkritik aktivitas tambang pasir ilegal yang dikelola Hariyono, Kepala Desa setempat saat itu. Akibatnya pengeroyokan tersebut Salim kancil tewas sedangkan Tosan dalam kondisi kritis dan dalam perawatan medis.

Sebanyak 35 orang ditetapkan tersangka dalam kasus ini. 29 orang ditetapkan tersangka pengeroyokan dan pembunuhan, sedangkan 6 orang lagi ditetapkan tersangka dua kasus sekaligus (pengeroyokan dan pembunuhan serta tambang ilegal). 2 orang selain ditetapkan tersangka pembunuhan dan tambang ilegal, juga ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang.

(Han/Son/dlk)