SUMENEP – Setelah diguncang gempa kuat yang merusak ratusan bangunan, situasi di Sumenep, khususnya di sekitar Pulau Sapudi, dilaporkan berangsur pulih.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa intensitas dan kekuatan gempa telah menurun drastis, memungkinkan masyarakat untuk kembali menjalankan aktivitas harian seperti biasa.
Informasi ini disampaikan langsung oleh Ahli Madya Analis Gempa BMKG Pasuruan, Syawaldin Ridha, saat ditemui di Kantor Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi, Senin (06/10/2025).
Parameter Gempa Dimutakhirkan Menjadi M6,0
Gempa yang terjadi pada 30 September 2025, pukul 23.49 WIB, sempat menimbulkan kepanikan karena informasi awal menyebut kekuatannya mencapai Magnitudo (M) 6,5.
Namun, setelah dilakukan pemutakhiran data oleh BMKG, parameter gempa dikoreksi menjadi M6,0. Lokasi gempa berada di koordinat 7,35° LS dan 114,22° BT, tepatnya di laut sekitar 58 km tenggara Sumenep, Jawa Timur, dengan kedalaman dangkal 12 km.
Ratusan Gempa Susulan Namun Tidak Berdampak Merusak
Syawaldin Ridha menjelaskan bahwa pasca getaran utama, tercatat sudah terjadi 181 kali gempa susulan. Meskipun jumlahnya banyak, kekuatan gempa susulan ini sangat kecil, hanya berkisar antara M1,0 hingga M3,0.
“Saat ini, intensitas dan kekuatannya sudah menurun. Gempa susulan yang terjadi tidak akan mengakibatkan kerusakan bangunan,” tegas Syawaldin kepada wartawan di Sumenep.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tidak perlu panik. Bagi warga yang rumahnya tidak mengalami kerusakan, dianjurkan untuk segera kembali menempati hunian masing-masing.
Imbauan Penting: Hanya Percaya Sumber Resmi BPBD dan BMKG
Pihak BMKG juga menekankan pentingnya masyarakat merujuk pada sumber informasi utama yang kredibel, yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep dan BMKG.
“Masyarakat tidak perlu panik, intensitas gempa sudah menurun. Silakan beraktifitas kembali,” imbuhnya.
Target Teknologi Pendeteksi Gempa Gelombang Kedua di Tahun 2030
Terkait dengan minimnya waktu peringatan dini, Syawaldin mengakui bahwa hingga kini belum ada teknologi di dunia yang mampu mendeteksi gempa sejak dini.
Namun, ia mengungkapkan bahwa BMKG saat ini sedang merancang sebuah teknologi baru yang bertujuan mendeteksi gelombang getaran gempa kedua. Gelombang kedua ini adalah gelombang yang kekuatannya besar dan notabene menjadi penyebab utama kerusakan.
“Targetnya, tahun 2030 teknologi ini rampung dan dapat di aplikasikan,” pungkasnya, memberikan harapan baru bagi sistem mitigasi bencana gempa di Indonesia di masa depan.


















