Antara Seremoni UTM dan Tsunami Sabu Masalembu: Deklarasi “Madura Produktif” Hanya Macan Kertas?

oleh -631 Dilihat
Puluhan kg narkoba jenis sabu di Masalembu diamankan aparat/Ist

 


MaduraExpose.com – Publik Madura seolah dipaksa menelan pil pahit. Di satu sisi, panggung megah Universitas Trunojoyo Bangkalan (UTM) pernah menjadi saksi bisu ikrar “Madura Produktif Tanpa Narkoba”. Namun di sisi lain, penemuan 52 kilogram sabu di perairan Masalembu baru-baru ini menjadi tamparan keras yang membuktikan bahwa benteng pertahanan Madura masih sangat keropos.

Seremoni di UTM Bangkalan: Janji di Atas Kertas

Masih segar dalam ingatan, pada Mei 2022 lalu, jajaran Polda Jatim, empat Polres se-Madura, bersama tokoh masyarakat dan aktivis berkumpul di UTM Bangkalan. Agenda besarnya satu: Deklarasi Madura Produktif Tanpa Narkoba.

Saat itu, komitmen dibacakan dengan lantang. Menolak peredaran narkoba, mendukung penegakan hukum, dan berjanji menjadikan kampung-kampung di Madura sehat dan produktif. Namun, tiga tahun berselang, pertanyaannya tetap sama: Apakah deklarasi itu berdampak pada bandar, atau hanya sekadar gugur kewajiban seremoni?

Tragedi Masalembu: 52 Kg Sabu dan “Pintu” yang Terbuka Lebar

Kenyataan berkata lain. “Tsunami” narkoba justru pecah di kepulauan paling utara Sumenep, Masalembu. Sebanyak 52 kilogram sabu dalam kemasan teh hijau beraksara China ditemukan nelayan dan petugas. Ironisnya, hingga detik ini, aktor intelektual di balik barang haram senilai puluhan miliar rupiah yang diduga berasal dari Malaysia tersebut belum juga terungkap.

Alih-alih menjadi “Madura Produktif”, wilayah kepulauan Sumenep justru tampak menjadi “jalur sutra” bagi jaringan internasional untuk memasok racun bagi generasi muda.

Kritik Pedas Zamrud Khan: Celah yang Tak Pernah Ditutup

Zamrud Khan,SH/dok.Maduraexpose.com

Direktur Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (P2NOT), Zamrud Khan, SH, yang juga terlibat dalam deklarasi di UTM, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Bagi pria yang dikenal vokal ini, penemuan di Masalembu adalah bukti nyata dari prediksinya tentang “Dua Pintu” (Two Gates) peredaran narkoba di Madura.

“Saya sudah ingatkan berkali-kali, Sumenep dan Madura secara umum memiliki celah strategis. Ada jalur darat dan ada jalur kepulauan yang sangat terbuka. Masalembu adalah bukti bahwa jalur laut kita masih menjadi sasaran empuk bandar internasional,” tegas Zamrud Khan dengan nada agitatif.

Ia menilai, penegakan hukum seringkali kehilangan taji saat berhadapan dengan “kakap” di balik jaringan ini. “Kejahatan narkoba ini extra ordinary crime, tingkatannya di atas terorisme. Kalau kita hanya sibuk deklarasi di hotel atau kampus tapi mengabaikan pengawasan ketat di jalur-jalur tikus kepulauan, maka deklarasi itu hanya akan jadi macan kertas,” tambahnya.

Penegasan: Butuh Aksi, Bukan Sekadar Tanda Tangan

Kontradiksi antara janji di Bangkalan dan fakta di Masalembu ini memicu tuntutan publik agar Polda Jatim dan jajaran Polres di Madura melakukan langkah lebih radikal. Rakyat Madura tidak butuh sekadar tanda tangan di atas spanduk deklarasi, melainkan aksi nyata pengejaran bandar hingga ke akarnya.

Jangan sampai slogan “Madura Produktif” hanya menjadi penghibur di tengah derasnya arus sabu yang terus mengancam masa depan putra-putri Pulau Garam. (Tim/Red)

Tentang Penulis: Tim/Red. MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Tinggalkan Balasan