Fahira Idris/Istimewa.

MADURAEXPOSE.COM–Aksi Bela Islam Jilid II pada 411 lalu, para peserta demo mengaku kecewa karena Presiden RI yang tak menemui pengunjuk rasa. Malam harinya, presiden menyampaikan pidatonya di Istana Negara. Ia sempat bilang bahwa aksi jutaan umat Islam tersebut ditunggangi politik.

Esoknya menyebar luas isu makar di Indonesia. Namun ketika hendak di konfirmasi terkait keterangan makar itu, pihak pemerintah dan penegak hukum tidak begitu jelas. Bahkan Kapolri sendiri menyuruh wartawan untuk membaca di Google.

Selanjutnya, pada tanggal 19 November 2016, aksi Kebhinekaan NKRI pun digelar. Aksi itu tidak menuntut apa-apa, hanya ingin menyampaikan ke publik luas agar menjaga keutuhan bernegara, guna menciptakan keadaan agar Indonesia Raya tetap kondusif, aman sejahtera.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Sejumlah tokoh yang dimintai keterangan terkait aksi itu mengaku tak ada hubungannya dengan aksi bela Islam. Meski beberapa kalangan, adanya parade itu sebagai aksi tandingan yang ternyata tidak sedikitpun para pembela Islam untuk melanjutkan perjuangannya dengan menggelar Aksi Super Damai 212, besok, Jum’at 2 Desember 2016.

Masalah ini mendapat respon dari anggota DPD RI Fahira Idris melalui cuitan twitternya kemarin.

‏@fahiraidris : Sebenarnya kita sedang tidak ada masalah perpecahan di nusantara.. Kita sedang punya masalah dengan PENEGAKAN HUKUM di nusantara..”, tulis Fahira Idris anggota DPD RI melalui akun twitternya.

Sebelumnya Aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet juga menampik semua tudingan aksi bela Islam ditunggangi oleh kaum radikalis dan berpotensi menimbulkan aksi terorisme. Dirinya juga sempat mendatangi Komisi III DPR RI mendesak Kapolri Tito Karnavian segera dicopot. [DBS/Arbania]