MADURA EXPOSE–Salah satu tokoh NU yang dikenal gemar menulis karya sastra A. Dardiri Zubairi, menorehkan hasil kontemplasi dari hasil amatannya seputar Desa Lapa Taman nan teduh permai melalui akun facebooknya. Berikut tulisan lengkap yang ditulis A.Dardiri di dinding facebooknya yang dilansir Maduraexpose.com, Selasa (16/08/2016):

Lapa Taman sebuah desa di pojok timur kabupaten sumenep, diapit oleh desa lapa daya di sebelah timurnya dan lombang sebelah baratnya. Dua desa yang mengapitnya telah diacak-acak hektaran tanahnya oleh para investor, sementara Lapa Taman kokoh menolaknya. Warga desa itu memiliki kesadaran luar biasa bahwa tanah yang mereka tinggali untuk anak cucu, bukan untuk orang asing yang nanti akan menindasnya.

Di desa ini juga ada (sisa) tanah perdikan, tanah pemberian raja kepada tokoh agama untuk melangsungkan pendidikan agama. Tanah perdikan ini dahulu tidak dibebani pajak oleh raja. Berarti lapa taman dahulu tempat para santri belajar agama.

Tak jauh dari desa itu, ada asta gurang-garing (syekh mahfudz) yang masih keturunan pangeran katandur dan masih seketurunan dengan pangeran Paddusan. Letaknya yang tidak jauh dari laut yang menghubungkan jawa-madura-kalimantan menjadikan desa ini dahulu banyak dikunjungi para perantau yang suku da rasnya berbeda-beda, dan jejaknya bisa dilihat sekarang, yaitu banyaknya makam-makam tua yang jumlahnya barangkali melebihi jumlah penduduknya.

Beberapa hari lalu, saya diundang sekelompok pemuda energik dari desa ini untuk hadir dalam kegiatan Taman Baca Masyarakat yang digagas secara swadaya oleh 15 orang anak muda. Dan anak muda di desa ini juga terlibat dalam gerakan kedaulatan tanah yang saat ini gencar disuarakan anak anak muda di Sumenep. Semoga desa ini tetap damai dan mampu menahan gempuran investor yang terus mengintai tanah-tanah mereka.

[Facebook A. Dardiri Zubairi]