Kumis Lele yang Menyengat Senayan

Terbit: 12 Maret 2026 | 11:21 WIB

PAMEKASAN – Skandal “lele marinasi” di SMA Negeri 2 Pamekasan kini bukan sekadar urusan dapur sekolah, melainkan telah bermutasi menjadi isu kegagalan pengawasan birokrasi di tingkat pusat. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, bereaksi keras terhadap temuan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyuguhkan lele dalam kondisi mentah—lengkap dengan kumis yang masih utuh—sebagai potret rapuhnya kendali mutu Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam perspektif administrasi publik, insiden ini mengindikasikan adanya disconnect antara standar operasional prosedur (SOP) yang disusun di Jakarta dengan implementasi taktis di lapangan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Yahya Zaini secara tegas mendesak BGN untuk melakukan evaluasi menyeluruh guna memastikan bahwa setiap rupiah dari anggaran negara yang dikonversi menjadi makanan harus memenuhi parameter keamanan pangan (food safety) dan kecukupan gizi.

Baca Juga: Bau Amis Lele di Meja Siswa

Persoalan ini, menurut Yahya, mencerminkan lemahnya pengawasan dari jajaran BGN, terutama di tengah tantangan distribusi selama bulan puasa. Ia menilai standar menu selama Ramadan mestinya berupa makanan kering, bukan komoditas mentah yang berisiko tinggi membusuk sebelum dikonsumsi. Atas dasar itu, legislator dari Partai Golkar tersebut meminta BGN menjatuhkan sanksi tegas berupa pemberhentian sementara terhadap operasional dapur SPPG terkait sebagai bentuk pertanggungjawaban administratif.

Ketegasan sanksi ini dianggap krusial agar tidak terjadi preseden buruk dalam tata kelola program strategis nasional. Yahya menyayangkan hingga saat ini belum ada tindakan konkret terhadap Kepala Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di BGN, yang secara hierarkis merupakan perpanjangan tangan langsung pusat dalam mengurusi operasional dapur, kualitas gizi, hingga keamanan makanan di daerah.

Baca Juga: Sultan Madura Pindah Haluan: Dari Kemewahan Alphard ke Revolusi Tesla Elon Musk?

Kekisruhan ini bermula dari langkah berani pihak SMAN 2 Pamekasan yang menolak distribusi paket MBG dari SPPG Yayasan As-Salman Buddagan pada Senin (9/3). Video penolakan tersebut viral setelah pihak sekolah menemukan lele yang diklaim sebagai “lele marinasi” oleh ahli gizi SPPG, Fikri Muttawakil, nyatanya masih dalam kondisi hidup. Perwakilan sekolah mengkhawatirkan kondisi lele yang mentah tersebut akan membusuk dengan cepat dan mencemari komponen makanan lain, sehingga membahayakan keselamatan para siswa.

Secara teoritis, kegagalan ini menunjukkan lemahnya quality control pada rantai pasok program MBG. Jika fungsi pengawasan oleh SPPI dan BGN tidak dibenahi, maka anggaran jumbo untuk perbaikan gizi nasional justru berisiko menjadi inefisiensi anggaran yang hanya menyisakan “bau amis” di meja siswa.**

Editorial Note: Laporan ini merupakan bagian dari rangkaian investigasi dan pemantauan berkelanjutan Redaksi MaduraExpose.com terhadap implementasi Program Strategis Nasional (PSN) Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Madura. Segala kutipan narasumber dalam artikel ini disusun secara integratif untuk menjaga orisinalitas narasi dan kedalaman analisis publik, selaras dengan komitmen kami dalam menyajikan jurnalisme yang berwibawa dan kritis.

Ferry Arbania Executive Editor, Madura Expose Global Media

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Kodim Sumenep Serahkan Truk Operasional KDKMP, Perkuat Ekonomi Desa

Terbit: 28 April 2026 | 12:19 WIB SUMENEP – Langkah strategis ditempuh Kodim 0827/Sumenep dalam memperkuat urat nadi perekonomian perdesaan. Penyerahan satu unit truk operasional kepada Kelompok Daerah Kerja Mandiri…

Dandim Sumenep Gaspol: Jembatan Ambunten & Bedah Rumah Warga

Terbit: 26 April 2026 | 11:31 WIB SUMENEP – Komitmen TNI dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur dan pengentasan hunian tidak layak di Sumenep kian nyata. Dandim 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *