Membaca Pesan Politik Kesejahteraan di Balik Gerakan Tanam Padi Desa Poreh

Terbit: 8 Januari 2026 | 05:59 WIB

Oleh: Redaksi Madura Expose

Gerakan Tanam Padi yang dipimpin langsung oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, di Desa Poreh, Kecamatan Lenteng, bukan sekadar seremoni turun ke sawah. Di balik lumpur dan benih Inpari yang ditanam, terdapat pesan kuat tentang peta jalan (roadmap) kemandirian ekonomi Kabupaten Sumenep di masa depan.

Ada tiga poin krusial yang patut kita bedah dari langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep kali ini:

1. Menghapus Ketergantungan, Mengejar Surplus

Target produksi sebesar 6,5 ton per hektar di atas lahan 60 hektar bukanlah angka yang main-main. Dengan intervensi bantuan 1,5 ton benih unggul, Bupati Fauzi sedang mencoba menggeser paradigma: dari sekadar “bertani untuk makan” menjadi “bertani untuk kedaulatan”. Ambisi menjadikan Sumenep sebagai lumbung pangan Jawa Timur adalah lompatan logis mengingat luas agraris kita yang memadai, namun seringkali terkendala pada akses bibit dan pupuk.

2. Pertanian Sebagai “Benteng” Ekonomi

Ketika sektor jasa dan industri global seringkali fluktuatif, pertanian tetap menjadi tulang punggung yang paling resilien (tangguh). Keputusan Pemkab memberikan stimulan berupa benih dan pupuk kepada 10 Kelompok Tani (Poktan) adalah bentuk investasi sosial. Jika petani sejahtera, daya beli masyarakat di pasar-pasar tradisional Sumenep akan tetap terjaga. Inilah yang disebut Bupati sebagai “tulang punggung perekonomian masyarakat”.

3. Sinergi di Atas Pematang Sawah

Hadirnya Dandim 0827 dan Wakapolres dalam kegiatan ini memberikan sinyal bahwa ketahanan pangan kini telah bergeser menjadi isu keamanan nasional. Swasembada bukan hanya urusan Dinas Pertanian, tapi urusan kedaulatan negara. Kerja sama lintas sektor ini memastikan bahwa program pemerintah tidak berhenti di tingkat administrasi, tapi benar-benar sampai ke tangan petani di tingkat desa.


Catatan Kritis: Keberlanjutan adalah Kunci

Namun, tantangan terbesar setelah gerakan tanam ini adalah pengawasan. Bantuan benih dan pupuk harus dipastikan tepat sasaran dan tidak macet di tengah jalan. Inovasi yang disebutkan Bupati harus menyentuh digitalisasi pertanian dan manajemen pasca-panen agar saat surplus nanti, harga gabah di tingkat petani tidak anjlok.

Gerakan di Desa Poreh adalah langkah awal yang sangat baik. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Sumenep akan menjadi kiblat baru swasembada pangan yang diperhitungkan di level nasional, sebagaimana target ambisius swasembada pangan 2026.

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Menata Kata di Mimbar Damai

Terbit: 15 April 2026 | 00:00 WIB JAKARTA – Diskursus publik kembali menghangat menyusul pelaporan tokoh nasional Jusuf Kalla (JK) oleh sejumlah organisasi kepemudaan lintas iman terkait petikan ceramahnya di…

Menakar ‘Warisan’ Fiskal: Bedah Raperda APBD Sumenep 2026 di Meja Paripurna

Terbit: 8 April 2026 | 03:41 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep resmi menerima Nota Keuangan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD Tahun Anggaran 2026. Momentum…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *