Konfercab PCNU Sumenep: Tiga Kiai Muda Kuat Didorong Bawa NU Lebih Responsif dan Berpihak pada Umat

Terbit: 6 Desember 2025 | 23:53 WIB

SUMENEP – Suhu dinamika politik menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep kian menghangat. Konfercab yang dijadwalkan pada 7 Desember 2025 ini menjadi sorotan utama, seiring menguatnya aspirasi perubahan dari kalangan warga dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Sumekar.

Gelombang aspirasi ini mencuat dari tingkat jamaah hingga pengurus Ranting dan Majelis Wakil Cabang (MWC). Warga nahdliyyin Sumenep menilai, organisasi Islam terbesar ini tidak cukup hanya bertumpu pada sejarah panjangnya, namun harus memiliki kepemimpinan yang lebih responsif, visioner, dan dekat dengan problem sosial yang dihadapi umat.

Kepemimpinan Kuat Gerakan, Dekat dengan Warga

Dorongan perubahan ini muncul seiring tantangan sosial-ekonomi yang makin kompleks di tengah masyarakat. Harapan utama adalah hadirnya program nyata yang berdampak langsung bagi warga nahdliyyin.

“NU harus semakin dekat dengan masyarakat dan kuat gerakannya. Bukan hanya besar nama,” tegas Siswadi, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kecamatan Dasuk, saat dikonfirmasi wartawn pada Sabtu (6/12/2025).

Menurutnya, pemimpin PCNU Sumenep ke depan harus memiliki kapasitas keilmuan tinggi, piawai dalam manajemen organisasi, dan mampu memimpin gerakan secara visioner. Aspirasi ini menegaskan prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang menekankan pentingnya peran aktif organisasi dalam melayani umat (khidmatul ummah) dan menjaga keseimbangan sosial (tawassuth).

Tiga Kiai Muda Jadi Simbol Regenerasi Progresif

Menjelang Konfercab 2025, pembicaraan publik mulai mengerucut pada sejumlah figur muda yang dinilai layak memimpin PCNU Sumenep. Kemunculan wajah-wajah baru ini menjadi bukti bahwa proses regenerasi dalam tubuh NU berjalan baik, menawarkan peluang bagi NU Sumenep untuk tampil lebih segar dan progresif.

Dari berbagai diskusi internal hingga obrolan di tingkat akar rumput, tiga nama kiai muda mencuat sebagai kandidat kuat, merepresentasikan harapan perubahan tersebut:

No.Nama KandidatLatar Belakang dan Keunggulan
1Kiai Abd. WasidKepala Kemenag Sumenep. Dikenal komunikatif, dekat dengan santri, dan memiliki perhatian besar pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Dipandang mampu membawa NU lebih terbuka dan modern.
2KH. Md Widadi RahimFigur berintegritas tinggi dan berkarakter teduh. Dilihat sebagai sosok penengah yang mampu menjaga harmoni (tasamuh) tanpa kehilangan ketegasan organisasi.
3K.H. Mohammad HosnanMelambung melalui aktivitas sosial dan kedekatannya dengan warga akar rumput. Energi pergerakan yang kuat membuatnya disebut sebagai “ikon generasi baru” NU Sumenep.

Konfercab 2025: Momentum Penentu Arah Organisasi

Konfercab kali ini dipandang sebagai momentum penting untuk menentukan arah organisasi ke depan. Harapan warga NU, seperti yang disampaikan Siswadi, tetap sama: lahirnya sosok ketua yang kuat gerakan, paham kondisi warga NU, dan bisa membawa NU lebih bermanfaat bagi umat.

“Yang dibutuhkan itu pemimpin yang kuat gerakan, paham kondisi warga NU, dan bisa membawa NU lebih bermanfaat,” tegas Siswadi, yang akrab disapa Adi Gen Sajagad kepada awak media.

Warga nahdliyyin berharap proses Konfercab berjalan demokratis dan bermartabat, serta mampu melahirkan pemimpin terbaik yang benar-benar berpihak pada kepentingan warga NU. Pemimpin baru diharapkan dapat menguatkan tiga pilar utama NU: Keagamaan (Dakwah), Pendidikan, dan Pemberdayaan Ekonomi Umat.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *