Wisata Sumenep di Tengah Bayang-Bayang KLB Campak

Terbit: 5 Desember 2025 | 19:18 WIB

Sumenep – Kabupaten Sumenep, yang dikenal sebagai salah satu ujung timur Pulau Madura dengan kekayaan budaya dan destinasi wisatanya yang eksotis, kini berada dalam sorotan ganda. Di satu sisi, daerah ini terus berupaya menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Di sisi lain, isu kesehatan publik, khususnya status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak yang belum dicabut, berpotensi memberikan dampak signifikan pada citra dan kunjungan wisatawan.

Investigasi mendalam menunjukkan bahwa meskipun Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep masih menunggu keputusan resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait pencabutan KLB, sektor pariwisata Sumenep harus bekerja ekstra keras untuk memastikan kesehatan publik tidak mengganggu geliat ekonomi daerah.


Proyeksi PAD Sumenep dari Sektor Pariwisata: Target Ambisius 2025

Sumenep memiliki aset pariwisata yang beragam, mulai dari keindahan alam seperti Gili Labak dan Pulau Oksigen Gili Iyang, hingga warisan budaya berupa Keraton Sumenep dan Masjid Agung Sumenep. Sektor ini merupakan salah satu andalan utama dalam mencapai target PAD.

Data terbaru menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Sumenep menargetkan kenaikan signifikan PAD dari retribusi tempat wisata dan parkir. Beberapa langkah strategis telah dilakukan:

  1. Revitalisasi Akses: Perbaikan infrastruktur jalan menuju destinasi utama seperti Pantai Slopeng dan pengembangan dermaga penyeberangan ke pulau-pulau.

  2. Peningkatan Fasilitas: Penambahan fasilitas dasar di Gili Iyang dan Gili Labak untuk kenyamanan wisatawan.

  3. Digitalisasi Tiket: Mulai diujicobakan sistem pembayaran tiket elektronik untuk efisiensi dan transparansi retribusi.

PAD Pariwisata: “Kami optimistis sektor pariwisata akan menjadi pendorong utama PAD tahun ini. Namun, keberlanjutan sektor ini sangat bergantung pada citra daerah. Isu kesehatan, seperti KLB, harus segera tuntas agar tidak ada keraguan dari calon pengunjung,” ujar seorang sumber di Bappeda Sumenep.

Target yang dicanangkan untuk tahun anggaran 2025 menunjukkan bahwa pariwisata diharapkan menyumbang persentase yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan pemulihan pasca-pandemi.


Dampak Ganda Isu Kesehatan: KLB Campak Belum Dicabut

Pencitraan positif Sumenep sebagai destinasi wisata unggulan kini berbenturan dengan kenyataan adanya status KLB Campak yang masih menggantung.

Dinkes Sumenep Tak Berani Cabut KLB Campak – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri, menegaskan bahwa pencabutan status KLB sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat.

“Kami masih menunggu rekomendasi dari Kemenkes. Perkiraannya dalam minggu ini, tetapi sampai sekarang kami belum mendapatkan informasinya,” kata Syamsuri, Selasa (25/11/2025).

Syamsuri menjelaskan bahwa tim Kemenkes telah melakukan evaluasi mendalam, termasuk kunjungan lapangan ke Puskesmas Kalianget, wilayah dengan kasus campak terbanyak dan cakupan Outbreak Response Immunization (ORI) tertinggi, yakni lebih dari 95 persen. Kunjungan ini bertujuan mengambil sampel dan memverifikasi kelengkapan laporan penanganan.

Kenapa Status KLB Menjadi Krusial?

Status KLB, meskipun telah dilakukan penanganan intensif, dapat memicu dua risiko utama bagi sektor pariwisata:

  • Peringatan Perjalanan: Status KLB secara tidak langsung bisa memicu kekhawatiran wisatawan domestik maupun internasional, yang berujung pada penundaan atau pembatalan perjalanan.

  • Prioritas Anggaran: Sumber daya dan fokus anggaran daerah, yang seharusnya bisa dialihkan ke pengembangan infrastruktur wisata, terpaksa masih terbagi untuk pemantauan dan penanganan kesehatan.

Syamsuri menambahkan bahwa pemantauan medis di 30 puskesmas dan rumah sakit rujukan tetap dilakukan setiap hari selama status KLB belum resmi dicabut. “Semua masih masuk pantauan sampai nanti status KLB benar-benar dicabut,” tegasnya.


Jalan Keluar: Memastikan Kepercayaan Publik

Untuk menjaga momentum PAD dari pariwisata, Sumenep harus melakukan upaya simultan:

  1. Transparansi Informasi Kesehatan: Dinas Kesehatan harus terus menginformasikan perkembangan penanganan Campak secara berkala dan transparan, menegaskan bahwa penularan berada di bawah kendali (cakupan ORI tinggi).

  2. Promosi ‘Wisata Aman’: Pemerintah daerah perlu gencar mempromosikan destinasi wisata dengan menekankan protokol kesehatan yang ketat dan jaminan keamanan bagi pengunjung.

  3. Fokus Destinasi Pulau: Mengingat kasus Campak terpusat di daratan (Kalianget), promosi keindahan pulau-pulau terpencil seperti Gili Iyang (Pulau Oksigen) dapat diperkuat, menonjolkan kealamian dan kondisi udaranya yang sehat.

Kunci keberhasilan Sumenep dalam mencapai target PAD 2025 terletak pada kecepatan Kemenkes mengeluarkan rekomendasi pencabutan KLB, dan kemampuan Pemerintah Kabupaten untuk menjaga citra pariwisata tetap kokoh di tengah bayang-bayang isu kesehatan yang menantang.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

RAHASIA TANEROS

Terbit: 29 Maret 2026 | 18:17 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Di balik deburan ombak Pesisir Beluk Ares, Kecamatan Ambunten, tersimpan sebuah rahasia geografis yang jarang disadari publik. Pantai Taneros (atau…

Memoles Tuah Janur di Pantai Lombang

Terbit: 27 Maret 2026 | 21:28 WIB SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya dalam mentransformasi tradisi lokal menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah. Melalui penyelenggaraan Festival Ketupat 2026 di Pantai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *