Menggapai Pahala Haji dan Umrah Sempurna: Keutamaan Ibadah Subuh Berjamaah, Dzikir, dan Shalat Isyraq

Terbit: 26 Oktober 2025 | 05:14 WIB

Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), setiap waktu ibadah adalah peluang emas untuk meraih ridha dan pahala berlimpah dari Allah SWT. Khususnya, waktu setelah shalat Subuh menjadi permulaan hari yang penuh berkah, di mana terdapat amalan istimewa yang pahalanya disetarakan dengan menunaikan ibadah haji dan umrah secara sempurna.

 

Amalan mulia ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi.

 

Dalil Keutamaan yang Agung

 

Keutamaan ini bersumber dari sabda Rasulullah ﷺ:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ، تَامَّةٍ، تَامَّةٍ»

Artinya: “Barangsiapa yang shalat Shubuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka baginya pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi, No. 586. Beliau menilainya Hasan).

 

Hadits ini telah diyakini dan diamalkan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bahkan sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani juga menilai hadits ini hasan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi. Keutamaan yang disebutkan ini merupakan kabar gembira (fadhailul a’mal) bagi umat Islam, bukan berarti gugurnya kewajiban haji bagi yang mampu.

 

Tiga Syarat Utama Meraih Pahala Sempurna

 

Berdasarkan hadits di atas, terdapat tiga rangkaian amalan yang menjadi kunci untuk mendapatkan pahala setara haji dan umrah yang sempurna, yaitu:

  1. Shalat Subuh Berjamaah: Amalan ini harus diawali dengan menunaikan shalat Subuh secara berjamaah. Menurut mayoritas ulama, keutamaan ini diutamakan bagi yang melaksanakannya di masjid, tempat di mana jamaah shalat Subuh lazim dilaksanakan.
  2. Duduk Berdzikir hingga Matahari Terbit (Syuruq): Setelah salam shalat Subuh, seseorang harus tetap berada di tempat shalatnya (atau di masjid) dan menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah SWT hingga matahari terbit dan naik sedikit (isyraq). Dzikir yang dimaksud bersifat umum, meliputi:
    • Membaca Al-Qur’an (Tilawah).
    • Membaca wirid dan zikir pagi yang diajarkan Rasulullah ﷺ (seperti tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan doa-doa pagi).
    • Mempelajari ilmu agama (seperti mengikuti majelis taklim atau membaca kitab).
    • Duduk tafakkur (merenungi kebesaran Allah).
    • Selama ia berada dalam kondisi menjaga wudhu dan tidak berbicara dengan urusan dunia atau hal-hal yang tidak termasuk kategori dzikir.
  3. Melaksanakan Shalat Dua Rakaat (Shalat Isyraq): Setelah matahari terbit sempurna dan meninggi kira-kira setinggi tombak (sekitar 15-20 menit setelah waktu syuruq), barulah seseorang bangkit dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Shalat ini oleh para ulama dikenal sebagai Shalat Sunnah Isyraq, yang juga merupakan permulaan waktu Shalat Dhuha.

 

Makna “Sempurna, Sempurna, Sempurna”

 

Pengulangan kata “تَامَّةٍ، تَامَّةٍ، تَامَّةٍ” (Sempurna, sempurna, sempurna) menunjukkan penekanan dan penegasan yang luar biasa dari Rasulullah ﷺ mengenai besarnya ganjaran amalan ini.

 

Para ulama Aswaja menjelaskan bahwa pahala yang didapat adalah seperti pahala haji dan umrah dalam hal balasan kebaikan (pahala), namun amalan ini tidak lantas menggugurkan kewajiban haji bagi yang telah memenuhi syarat istitha’ah (mampu). Ini adalah bentuk kemurahan Allah SWT yang memberikan ganjaran agung bagi hamba-Nya yang memanfaatkan waktu pagi dengan ketaatan.

 

Penutup

 

Waktu Subuh adalah momen berharga yang menjadi saksi pergantian “shift” malaikat. Dengan menjalankan shalat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan berdzikir, dan ditutup dengan Shalat Isyraq, seorang Muslim telah menempatkan kakinya di jalan keberkahan dan meraih janji pahala yang menyamai ibadah agung haji dan umrah.

 

Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita untuk istiqamah dalam menghidupkan sunnah yang mulia ini, menjadikan setiap pagi kita dipenuhi cahaya iman dan pahala yang sempurna. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin. [**]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *