Bakhil Menurut Rasulullah: Bukan Sekadar Urusan Harta, Tapi…

Terbit: 20 Agustus 2025 | 04:09 WIB

Dalam khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam paham Ahlussunnah Wal Jamaah, makna ‘pelit’ atau ‘bakhil’ tidak hanya terbatas pada urusan materi.

 

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib RA mengungkap definisi yang lebih mendalam, langsung dari lisan Nabi Muhammad SAW.

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang sangat pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak membaca shalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi: 3469)

 

Hadits ini membuka pandangan kita tentang esensi kebakhilan. Seseorang mungkin dermawan dalam harta, tetapi jika ia pelit dalam memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, ia termasuk dalam kategori yang disebutkan.

 

Membaca shalawat saat nama beliau disebut adalah amalan yang sangat ringan. Ia tidak membutuhkan biaya, tenaga, atau waktu yang banyak. Namun, pahala dan keberkahannya sangat besar.

 


 

Pahala Shalawat: Rahmat Berlipat Ganda

 

Imam An-Nasa’i meriwayatkan sebuah hadits yang menjelaskan betapa agungnya balasan bagi orang yang bershalawat.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat (mencurahkan rahmat) kepadanya sepuluh kali, menghapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR. An-Nasa’i)

 

 

Tidak hanya itu, sebuah hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menambahkan keistimewaan lain dari shalawat, terutama setelah mendengar azan.

 

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Artinya: “Jika kalian mendengarkan seorang muadzin (azan), maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sungguh siapa yang membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya (merahmatinya) sepuluh kali. Kemudian, mintalah kalian kepada Allah untukku sebuah wasilah (perantara), karena wasilah adalah sebuah tempat di surga yang tidak diperkenankan kecuali untuk hamba khusus. Dan aku berharap aku yang mendapatkannya. Maka siapa yang memintakan wasilah untukku, ia halal mendapatkan syafaat.” (HR. Muslim)

 

Hadits ini secara jelas mengaitkan shalawat dengan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat. Ini adalah investasi spiritual yang paling berharga, yang tidak bisa dibeli dengan harta.

 


 

Menjauhi Sifat Bakhil: Pelajaran dari Umat Terdahulu

 

Hadits lain dari Abdullah bin Amr RA yang diriwayatkan oleh Abu Dawud mengingatkan kita akan bahaya sifat pelit secara umum.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

Artinya: “Jauhilah sifat pelit, karena sesungguhnya yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sifat pelit. Mereka diperintahkan untuk bersifat bakhil (pelit) maka merekapun bersifat bakhil, mereka diperintahkan untuk memutuskan hubungan kekerabatan maka merekapun memutuskan hubungan kekerabatan, dan mereka diperintahkan untuk berbuat dosa maka mereka berbuat dosa.” (HR. Abu Dawud)

 

Sifat pelit, baik dalam hal harta maupun dalam hal spiritual (seperti enggan bershalawat), adalah akar dari berbagai keburukan. Ia dapat memutus tali silaturahmi dan mendorong seseorang pada perbuatan dosa.

 

Untuk itu, mari kita renungkan kembali. Agar tidak termasuk golongan orang yang bakhil menurut Rasulullah, biasakan lisan kita untuk bershalawat setiap kali nama beliau disebut.

 

Bahkan, tanpa menunggu nama beliau disebutkan, jadikan shalawat sebagai dzikir harian kita. Ia adalah amalan ringan yang mendatangkan berkah, menghapus dosa, meninggikan derajat, dan yang paling utama, mendatangkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW. [dbs/nuo/gim/fer]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *