Nelly Farraniyah: Senada di Lapangan, Serasi di Akademis

Terbit: 8 Agustus 2025 | 05:01 WIB

Kalau kata bucin, “cinta itu harus seiring sejalan.” Tapi kalau kata seorang atlet voli bernama Nelly Farraniyah, “pendidikan dan hobi itu harus selaras, tepat waktu, dan satu visi.” Yap, guys, inilah Nelly Farraniyah, atlet voli kebanggaan Kabupaten Sumenep yang bikin kita sadar bahwa passion dan logika itu bisa jadi duet maut.

Nelly, yang akrab disapa Niya, punya filosofi hidup yang simpel tapi powerful: jangan sampai salah satu terbengkalai. Buat Niya, voli bukan sekadar hobi, melainkan “romansa” yang tumbuh dari lingkungan. Lahir di Saronggi pada 7 Januari 2002, ia sudah akrab dengan bola voli sejak SD. Lingkungan keluarganya yang suportif, di mana bapak dan kakak perempuannya juga hobi voli, membuat bakatnya terekspos sejak dini. Ia bahkan sempat bergabung dengan klub lokal, Ivos, yang menjadi kawah candradimukanya.

Namun, di balik kegemarannya memukul bola, ada komitmen intelektual yang tak main-main. Niya sadar betul bahwa “romansa” di lapangan harus diimbangi dengan “paradigma” di ruang kelas. Buktinya, saat menempuh pendidikan di Universitas Aryawiraraja (Unija), ia memilih Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan prodi Manajemen. Pilihan ini bukan kebetulan, melainkan hasil pemikiran strategis untuk mengoptimalisasi potensi. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi penting untuk mengembangkan karier, baik di dunia olahraga maupun di jalur profesional lainnya. Niya membuktikan bahwa sinergi itu nyata: ia aktif di UKM Voli Unija sekaligus punya “romansa intelektual” dengan membaca buku.

“Alhamdulillah, kuliahku selesai tepat waktu, empat tahun dijalani,” ucap Niya sambil tersenyum, memancarkan aura seorang pemenang.

Di balik semua pencapaiannya, ada sosok inspiratif yang menjadi role model: Prilly Latuconsina. Bagi Niya, Prilly bukan hanya soal paras, tapi paket lengkap sebagai wanita independen dan pekerja keras. “Semangatnya itu menjadi motivasi dalam hidupku,” ungkap Niya, menjelaskan bagaimana inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari figur publik yang punya spirit sama. Ini adalah esensi dari romansa, menemukan idealisme dalam diri orang lain untuk diterapkan pada diri sendiri.

Ke depan, Niya memiliki impian yang sejalan dengan “romansa” akademisnya. Ia ingin menjadi pegawai bank, sebuah karier yang sangat linear dengan jurusan Manajemen yang ia tekuni. Lebih dari itu, impian terbesarnya adalah membanggakan orang tua dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang. Sebuah ending yang romantis dan ilmiah sekaligus: mengejar karier profesional sambil tetap menyalakan api pengabdian.

Nelly Farraniyah adalah bukti nyata bahwa olahraga dan pendidikan bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua sayap yang harus seimbang agar kita bisa terbang tinggi menggapai mimpi. [rus/fer]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Lebaran dr. Tifa: Antara Langkah Sunyi, Luka yang Sakral, dan Kemenangan Hati

Terbit: 19 Maret 2026 | 20:10 WIB SUMENEP – Di tengah gempita perayaan Idul Fitri 1447 H, sebuah pesan kontemplatif datang dari sosok intelektual dr. Tifauzia Tyassuma (dr. Tifa). Melalui…

Mudik 2026: Komisi VI DPR RI Soroti Kegagalan Mitigasi BUMN Karya di Jalur Krusial

Terbit: 17 Maret 2026 | 23:21 WIB JAKARTA – Arus mudik Lebaran 2026 yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan nasional, kini berubah menjadi ujian kesabaran bagi jutaan masyarakat. Kendala klasik berupa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *