Pesan Serius KH. Ahmad Fauzi Tidjani: Pramuka Santri Adalah Garda Terdepan dan Calon Pemimpin Bangsa Berakhlak

Terbit: 13 Oktober 2025 | 19:09 WIB

SUMENEP – Lomba Kepramukaan Penggalang dan Penegak Tingkat Nasional (LKPPN) 2022 yang digelar Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amien Prenduan pada 4-10 September 2022 tidak sekadar ajang kompetisi, melainkan panggung bagi KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA untuk menyampaikan pesan-pesan penting mengenai peran strategis santri dan Pramuka dalam masa depan bangsa.

 

Dalam sambutannya saat membuka acara Kesyukuran 70 Tahun Ponpes Al-Amien Prenduan tersebut, Pimpinan dan Pengasuh Ponpes Al-Amien Prenduan ini menaruh harapan besar di pundak para peserta.

 

Memimpin Bangsa dengan Akhlak dan Keberpihakan pada Umat

 

Pesan utama KH. Ahmad Fauzi Tidjani adalah bahwa para Pramuka santri adalah calon pemimpin bangsa yang harus menjunjung tinggi akhlak. Harapannya sangat jelas: kepemimpinan mereka kelak harus mampu menciptakan kebijakan yang memihak untuk umat Islam.

 

“Alhamdulillah, semoga para Pramuka santri ini akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia yang berakhlak, sehingga mampu merubah kebijakan yang memihak untuk umat Islam, insya Allah,” ujar beliau.

 

Beliau juga menekankan pentingnya menjadi “santri seumur hidup,” mengingatkan bahwa keberangkatan dari jiwa seorang mukmin harus selalu diikuti dengan semangat menuntut ilmu dan berakhlak mulia hingga akhir hayat.

 

Pramuka Santri: Eksistensi yang Tak Terbantahkan

 

Pelaksanaan LKPPN yang dikhususkan untuk pondok pesantren se-Indonesia ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan kepramukaan di lingkungan pesantren memiliki eksistensi luar biasa. KH. Ahmad Fauzi Tidjani menyebutkan bahwa kegiatan Pramuka di Al-Amien Prenduan sudah ada sejak 1971 dan terbukti melahirkan solidaritas, keterampilan, dan kecakapan hidup seorang santri.

 

Pandangan ini diperkuat oleh Kak Dr. H. Zamzami Shabiq, M.Psi, yang mewakili Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Timur. Kak Zamzami menandaskan bahwa Pramuka di pondok pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata karena eksistensinya terbukti melahirkan banyak tokoh luar biasa.

 

“Metode kepramukaan makanan sehari-hari di pesantren. Realitas sebenarnya adalah pesantren ini merupakan harapan bagi kemajuan bangsa,” tegas Kak Zamzami, menyoroti bahwa nilai-nilai Dasa Dharma sudah terinternalisasi dalam kehidupan santri.

 

Tiga Tanggung Jawab Berat Pramuka Santri

 

Kak Zamzami merinci tiga tanggung jawab besar yang diemban oleh para Pramuka santri, menunjukkan betapa kompleksnya peran mereka di masyarakat:

  1. Tanggung Jawab Ilmu dan Pengetahuan: Santri harus mampu menyebarkan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat, memahami berbangsa dan bernegara, serta menjadi garda terdepan dari munculnya disintegrasi bangsa.
  2. Tanggung Jawab Tingkah Laku (Zahir): Sejalan dengan Dasa Dharma ke-10 (suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan), santri sudah terbiasa mengasah tingkah laku lahiriah.
  3. Tanggung Jawab Budi Pekerti (Batin): Melalui riadhoh, istighosah, dan kegiatan Pramuka seperti jurit malam, batin santri diasah, memastikan karakter yang kuat.

Ketua Harian Kwartir Cabang (Kwarcab) Sumenep, Drs. H. Moh. Sirat Aidi, M.Si, juga memuji LKPPN sebagai “pemikiran cerdas” dan media pemersatu serta pemantik semangat kebangsaan yang penting di tengah menurunnya nasionalisme.

Pada akhirnya, tujuan utama dari LKPPN yang diikuti 420 peserta dari 20 kontingen pondok pesantren se-Indonesia ini bukanlah hadiah atau kompetisi, melainkan bagaimana ukhuwah antar pesantren bisa semakin erat. Sebagaimana ditekankan Kak Zamzami, keakraban antar peserta adalah hadiah terbesar dari kegiatan ini, mengukuhkan semangat persaudaraan menuju Indonesia Jaya.

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *