Cerita UAS Didatangi Pegawai Pajak Hendak Audit Penghasilan Youtube-nya

Terbit: 20 Januari 2024 | 21:46 WIB

Maduraexpose.com–   Penceramah kondang Ustaz Abdul Somad  atau UAS dikenal sebagai pendakwah yang menyiarkan agama Islam secara online dan offline. UAS menyebut hasil adsense dari YouTube-nya lumayan tinggi hingga ratusan juta.

Menariknya, UAS justru mengaku tidak mengambilnya seperak pun.Ia memiliki youtube dengan penghasilan ratusan juta, tapi UAS tidak mau sedikitpun ambil dari hasil youtube-nya tersebut.

UAS sama sekali tidak mengambil uang dari hasil Youtube Officialnya itu

“Saya bukan orang kaya, saya bukan businessmen, lalu dari mana duitnya Pak Ustadz? Dari Ustadz Abdul Somad Official yang di Youtube itu,” ujar UAS dalam tayangan video pendek dilaman insertlive dilihat Maduraexpose.com, Sabtu malam.

Kemudian UAS melanjutkan kisahnya didatangi pegawai pajak ingin mengaudit penghasilan youtubenya.

“Makanya datang pegawai pajak kami dari kantor pajak akan mengaudit hasil youtube, lah habis untuk anak-anak santri semuanya,” imbuhnya lagi.

Menurut UAS, dirinya mencoba merendah penghasilan dari channel youtube yang dikelolanya itu.

“Saya tak ada ambil seperak, haram dari hasil youtube itu, UAS hidup dari youtube itu, iyalah ustadz kasih youtube itu tak banyak.” Kelakarnya.

Sambil memegang Toa, UAS melanjutkan ceramahnya yang diselingi penghasilan Youtube Official-nya.

“Tahu kalian berapa hasil youtube sebulan, nanti kalau kusebutkan melelehkan imanku,” demikian UAS dikutip dari unggahan video pendek InsertLive.Sabtu 20 Januari 2024. [ins/Arbania]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *