Hidup Adalah Ladang Pengabdian

Terbit: 5 Juni 2022 | 20:24 WIB

Oleh : KH.Muhammad Sahli
Mensyukuri hidup itu berarti menikmati apa adanya dengan terus berupaya agar lebih baik dan memberi manfaat untuk lingkungan sekitar sehingga keberadaan kita menjadi bernilai dengan berkontribusi sesuai kemampuan yang kita miliki.

Banyak hal yang bisa dilakukan salahsatunya dengan menghibahkan waktu yang dimiliki di tengah padatnya kesibukan dan atmosfer tugas yang meninggi.

Agama memberikan rambu-rambu yang jelas bahwa manusia dan jin diciptakan untuk mengabdi menghambakan diri di depan keagungan-Nya. Pengabdian tentu bukan hanya soal shalat, puasa, haji dan ibadah ritual formal lainnya, tetapi juga banyak hal yang menyangkut hubungan dengan orang lain maupun lingkungan sekitar, seperti menghadiri undangan, membantu mereka yang dalam kesulitan, menghargai perbedaan pandangan dll.

Di sisi lain kita dihadapkan pada pribadi yang terkadang masa bodoh dengan dunia sekitarnya. Contoh sederhana adalah meminta idzin ketika kita harus memarkir sepeda atau mobil di halaman atau tanah orang lain.

Tidak jarang kita memarkir seenaknya tanpa sepengetahuan sang tuan rumah, padahal dengan meminta idzin adalah bagian dari ibadah. Nah, jika ternyata ada orang lain yang seperti, maka sikap kita tetap membiarkannya dan hati tidak mendongkol , toh itu ladang pahala juga.

Selain itu sikap tawadhu’ kita ketika sedang berkendara adalah menunjukkan rasa penghormatan kepada orang yang duduk atau berjalan dengan memanggil salam membungkukkan badan, membunyikan klakson atau turun jika tidak sedang darurat atau juga membuka kaca mobil sebagai bentuk perhatian, apalagi orang yang kita jumpai adalah orang yang lebih sepuh, lebih-lebih seorang guru.

Inti dari pengabdian itu adalah tindakan totalitas sebagai hamba yang diliputi ketidakberdayaan dengan menghambakan diri ke Hadirat Ilahi. Ada yang bertanya, apakah menanam bunga atau menulis di medsos itu adalah pengabdian juga? Tentu ia sepanjang diniatkan ibadah sekalipun ada orang yang mencibirnya.

Yang namanya kebaikan pasti ada syetan yang berusaha menggagalkannya dengan berbagai cara. Tidak membunyikan pengeras suara di saat orang lain istirahat, tidak membuang sampah sembarangan, turun dari kendaraan saat di dekat orang shalat dan mengaji, tidak menggeber gas dan membunyikan klakson di lingkungan pendidikan juga ibadah.

Dalam hidup yang singkat ini, tentu kita tidak ingin waktu kita terbuang sia-sia. Untuk itu itu selagi masih ada kesempatan, kita berupaya sebaik mungkin agar setiap tarikan nafas dan detak jantung memberikan manfaat untuk sesama dalam berbagai versi dan bentuknya.

Terus berusaha menyemai benih kebaikan dan pengabdian agar kita dapat memetik hasilnya kelak di akhirat. Tidak usah perduli dengan penilaian orang lain, yang misalnya mengatakan “ah, itu kan ada kepentingan terselubung” atau “paling biar dikatakan hebat” dan ungkapan miring lainnya.

Dengan selalu belajar menjadi baik dan membiasakan diri untuk berbuat baik adalah tiket untuk menjadi orang baik insya Allah.

*)Penulis adalah Akademisi, Penyair dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Iman, Gadu Barat, Ganding, Sumenep

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Anatomi Teror: Antara Residu Militerisme dan Supremasi Hukum

Terbit: 21 Maret 2026 | 03:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | LABORATORIUM NALAR – Peristiwa penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, di pelataran YLBHI bukan sekadar tindak pidana penganiayaan…

Kiamat Nalar 2026: Saat Algoritma Menjadi ‘Dajjal’ dan Gaza Jadi Laboratorium Terakhir Manusia

Terbit: 19 Maret 2026 | 13:11 WIB MADURAEXPOSE.COM – Peradaban sedang berada di titik nadir yang paling berbahaya. Ketika Joe Kent di Amerika Serikat membongkar kepalsuan intelijen yang menyeret Trump…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *