Dialektika Solidaritas Said Abdullah: Konferda PDI Perjuangan Jatim dan Manifestasi ‘Komunitas Politik’

Terbit: 20 Desember 2025 | 14:00 WIB

SURABAYA – Di bawah naungan lampu kristal Hotel Shangri-La Surabaya, Sabtu (20/12/2025), Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, membuka Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) Serentak dengan sebuah tesis yang melampaui sekadar urusan administratif partai.

Bagi Said, suksesi kepengurusan bukanlah tentang perpisahan, melainkan sebuah dialektika untuk merawat “tiang utama” kehidupan partai: Solidaritas.

Politik Sebagai ‘Common Good’

Dalam perspektif filsafat politik Aristotelian, politik adalah upaya mencapai Bonum Commune atau kebaikan bersama. Said Abdullah menerjemahkan konsep ini dengan menegaskan bahwa PDI Perjuangan bukanlah sekadar organisasi pemburu kekuasaan, melainkan sebuah “komunitas politik” yang memiliki cita-cita luhur bagi kesejahteraan masyarakat.

“Ini bukan momentum perpisahan. Kita adalah keluarga besar PDI Perjuangan selama-lamanya. Partai ini hidup karena solidaritas kader,” tegas Said dengan nada yang penuh emosional namun tetap rasional.

Ia memperingatkan para kader agar tidak terjebak dalam pragmatisme instrumental—sebuah kondisi di mana politik hanya dipandang sebagai alat pemuas kepentingan pribadi jangka pendek. Baginya, egoisme personal adalah racun yang dapat merusak tatanan kolektif partai.

Etika Pertanggungjawaban: Menuju Kedewasaan Organisasi

Said Abdullah, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, membawa nafas transparansi fiskal ke dalam tubuh partai. Ia menyebut Konferda-Konfercab sebagai forum pertanggungjawaban yang sakral—sebuah manifestasi dari etika kewajiban (Deontologi) politik.

Pertanggungjawaban tersebut tidak hanya menyentuh aspek kepemimpinan, tetapi juga mencakup akuntabilitas aset dan keuangan partai. “Konferda dan Konfercab adalah momen pertanggungjawaban diri secara organisasi. Kita membudayakan mekanisme ini sebagai wujud kedewasaan,” jelas politisi asal Sumenep tersebut.

Refleksi sejarah juga menjadi poin penting. Said mengajak kader menengok kembali fase heroik tahun 1983 sebagai cermin perjuangan. Dalam filsafat sejarah, ingatan kolektif adalah kompas yang menjaga partai agar tetap berada pada rel ideologi aslinya: berpihak pada rakyat kecil (Wong Cilik).

Sikap Politik dan Gotong Royong

Menutup orasinya, Said Abdullah menekankan pentingnya loyalitas dan kedisiplinan. Dalam dunia politik modern yang cair, PDI Perjuangan Jawa Timur berusaha tetap konsisten dengan prinsip Gotong Royong.

Orientasi utama partai harus tetap menjadi jawaban atas persoalan rakyat. “Sikap politik partai wajib kita perjuangkan bersama. Inilah esensi dari kerja politik kita: menjawab kebutuhan rakyat,” tandasnya. [Tim/Red]

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Titip Lab di Mapolda Jatim

Terbit: 15 April 2026 | 14:41 WIB SUMENEP, MADURA EXPOSE– Keheningan Pantai Pasir Putih Kahuripan, Dusun Lombi Timur, Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting, mendadak pecah pada Senin sore (13/4). Seolah menjadi…

Konferensi Pers Temuan Kokain 27 Kg Batal Mendadak Kapolda Jatim Dipanggil Wakapolri

Terbit: 14 April 2026 | 15:00 WIB SUMENEP – Publik yang menanti rilis resmi terkait temuan fantastis 27,83 kilogram diduga kokain di Giligenting harus gigit jari. Agenda konferensi pers yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *