KH Abdul Matin Jawahir Dawuh Keras, “Yang Tidak Kiai, Walaupun Kaya, Bendahara Saja!”

Terbit: 16 Desember 2025 | 04:33 WIB

SUMENEP – Jati diri Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) kembali dipertegas dalam forum permusyawaratan tertinggi. Konferensi Cabang (Konfercab) NU Sumenep yang berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Annuqayah Latee menjadi saksi penegasan fundamental tentang kepemimpinan organisasi.

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Matin Jawahir, secara lugas menyampaikan pesan utama yang harus dipegang teguh oleh seluruh struktural NU di tingkat cabang hingga ranting. Pesan tersebut menggarisbawahi tradisi salafush shalih NU: Kepemimpinan struktural harus berada di tangan ulama dan kiai.

Prinsip Ulama Sebagai Pemandu Organisasi

KH Abdul Matin Jawahir mendasarkan argumentasinya pada dua pilar historis dan spiritual Nahdlatul Ulama:

  1. Pendiri adalah Ulama (Muassis): NU didirikan oleh para ulama besar yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

  2. Kepemimpinan Ulama: Struktur utama kepemimpinan (baik Syuriyah maupun Tanfidziyah) idealnya harus dipegang oleh ulama yang memiliki legitimasi keilmuan dan spiritualitas yang mendalam.

Beliau bahkan secara tegas menempatkan kalangan non-ulama, meskipun memiliki sumber daya finansial yang melimpah, hanya pada posisi pendukung dan penunjang organisasi.

“Garis bawah, Nahdlatul Ulama adalah jam’iyah didirikan oleh para Ulama, dua: Nahdlatul Ulama adalah jam’iyah yang pimpinannya adalah para ulama. Jadi mohon maaf yang tidak kiai yang tidak ulama walaupun kaya Bendahara saja,” tegas Kiai Matin, dikutip pada Senin (15/12/2025).

Pernyataan lugas ini berlandaskan pada prinsip keagamaan, yaitu “Usidal Amru Fi Amrihi” (serahkan urusan kepada ahlinya).

Konsekuensi Fatal Jika Khittah Diabaikan

Kiai Matin lantas mengingatkan peserta Konfercab mengenai konsekuensi fatal yang akan terjadi jika prinsip Usidal Amru diabaikan, merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW:

Idza wussidal amru ila ghairi ahlihi fantadziri sa’ah (jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya),” imbuh Kiai Matin.

Pesan ini disambut sorak dan tepuk tangan meriah, menegaskan bahwa kepemimpinan dalam jam’iyyah NU, yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), memerlukan kedalaman ilmu agama dan khidmah (pengabdian) yang otentik, bukan semata berorientasi pada modal finansial atau popularitas politik.

Konfercab NU Sumenep Kukuhkan Khittah Ulama

Pesan KH Abdul Matin Jawahir terbukti sejalan dengan hasil akhir Konfercab NU Sumenep yang mengusung tema “Satu Fikrah, Satu Harakah.”

Setelah melalui musyawarah Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), yang terdiri dari kiai-kiai sepuh, ditetapkanlah KH Ahmad Washil Hasyim sebagai Rais Syuriyah PCNU Sumenep. Sementara itu, KH Md Widadi Rahim terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep, mengukuhkan pilihan pada ulama dan kader terbaik.

Pemilihan Rais Syuriyah melalui AHWA—mekanisme yang hanya melibatkan kiai senior—dan terpilihnya kiai sebagai Ketua Tanfidziyah, menunjukkan komitmen NU Sumenep untuk mengokohkan kembali khittah ulama di posisi tertinggi organisasi untuk masa khidmat 2025-2030.***

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Mimpi Buruk ‘Paman Sam’ di Tanah Persia: Mengapa Iran Sulit Ditaklukkan?

Terbit: 8 April 2026 | 04:00 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyeret nama Iran ke pusaran spekulasi militer global. Di tengah “jurus mabuk” kebijakan luar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *