Oleh: Ferry Arbania, Pimred MaduraExpose.com

MADURAEXPOSE.COM–Sejak tahun 2016 lalu, ada beberapa Camat di Sumenep yang pernah jadi bulan-bulanan media, karena kinerjanya yang dinilai tidak profesional, semisal jarang masuk hingga terseret kedalam persoalan serius lainnya.

1. Faruk Hanafi, Camat Masalembu (Sekarang Camat Giligenting)

Farouk Hanafi/net

Pada bulan Februari 2016 lalu, Faruk Hanafi masih menjabat sebagai Camat Masalembu dan sempat menjadi bulan-bulanan media karena diduga sering bolos hingga mengajukan surat keterangan sakit.

Sering bolosnya Faruk saat itu terungkap saat pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kecamatan (Musrembangcam), yang digelar pada hari Senin 29 Februari 2016. Akibatnya, sejumlah kalangan mendesak Bupati segera mencopot Faruk Hanafi dari jabatannya sebagai Camat Masalembu karena dinilai tidak mematahui aturan sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Faruk Hanafi,ditengarai membolos sejak akhir tahun 2015 hingga tugas dan tanggung jawabnya terabaikan.

“PNS itu harus bekerja sesuai aturan, kalau (Camat masalembu) tidak masuk kerja sampai tiga bulan lamanya, maka sanksinya sangat berat. Apalagi jika tidak masuk kerja sampai berbulan-bulan tanpa ada alasan yang jelas, maka sanksi yang pantas adalah dipecat. Buat apa bupati piara PNS seperti itu,”demikian kritik pedas disampaika Wakil Ketua DPRD Sumenep Moh. Hanafi seperti dilansir sejumlah media pada Selasa 1 Maret 2016.

Hanafi menambahkan, untuk kasus camat Masalembu, pihaknya menilai sudah kelewat batas, karena telah berani tidak menghadiri pelaksanaan musrembangcam. Padahal acara tersebut merupakan gawenya kecamatan, yang harus dihadiri camat, Sekcam, atau pejabat kecamatan lainnya.

Anehnya, setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari wakil rakyat melalui pemberitaan di media online,Camat Faruk saat itu mengajukan izin sakit.

2. Abd Halim Camat Pragaan (Sekarang Kabag Humas DPRD Sumenep)

Abd Halim

Sewaktu menjadi Camat Pragaaan, tepatnya pada bulan Agustus 2016 lalu, Abd. Halim mendapat protes keras dari sejumlah Aktifis Pragaan yang membantah keras tentang program kegiatan fisik yang bersumber dari ADD dan DD telah selesai tepat waktu.

Saat itu Abd Halim mengklaim program ADD/DD di 14 Desa diseluruh Kecamatan Pragaan akan selesai tepat waktu karena pengerjaannya sudah mencapai 60 % fokus pada pengerjaan infrastruktur jalan dan vafing.

Namun hal itu dibantah keras oleh aktivis Pragaan, seperti diungkap Zubairi Ismail saat itu. Pihaknya membantah kalau proyek yang bersumber dari ADD dan DD telah selesai 60% seperti dikaliam oleh Camat Abd Halim.

“Buktinya sampai saat ini hanya terlihat sebagian material yang menumpuk dijalan, itupun materialnya tidak sesuai kapasitas proyek yang akan dilaksanakan. Jangan-jangan yang mengatakan selesai 60% itu tidak pernah turun langsung ke lapangan”, tuding Zubairi Ismail Aktivis Pragaan yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa STAIN Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Tudingan keras juga disampaikan aktivis kampus lainnya, yakni Moh. Ali. Dirinya menduga proyek yang bersumber dari ADD/DD tersebut hanya isapan jempol belaka. Itu dilihat dari pembangunan yang ada hanya dirasakan orang-orang tertentu saja.

“Buktinya proyek paving yang hanya dibangun menuju rumah orang kepercayaan Kepala Desa” beber Mahasiswa asal IDIA Al Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur seperti dilansir media. [*]