Ketua Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) Zainal Arifin Fuat/Dok/Istimewa

MaduraExpose.com–Ketua Departemen Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) Zainal Arifin Fuat mewakili petani sedunia dalam sebuah forum pertanian terbesar di dunia yaitu pertemuan bertajuk Dekade PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) untuk Pertanian Keluarga (2019-2029) di kantor pusat PBB, di New York, Amerika Serikat, Selasa (16/7).

Pria asal Madiun, Jawa Timur itu diposisikan sejajar dengan Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu ddalam forum tersebut.

Zainal menyampaikan agar PBB sukses dengan mencapai target “Sustainable Development Goals”. Sangat penting bagi PBB dan FAO (Badan Pangan Dunia) untuk terus mempromosikan pertanian berbasis keluarga kecil yang menggunakan sistem agroekologis.

“Sistem pertanian agroekologis menuntun petani kecil untuk bertani secara berdaulat, meninggalkan ketergantungan terhadap input-input kimia yang tidak menyehatkan, dan tentunya lebih ramah lingkungan,” kata Zainal dalam keterangan tertulis, Rabu (17/7).

Dia melanjutkan, agar Dekade PBB untuk Pertanian Keluarga ini berhasil dan maksimal dijalankan, wajib disinkronkan dengan Deklarasi PBB tentang hak asasi oetani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan yang baru disahkan tahun lalu, yang inisiatifnya berasal dari SPI.

“Pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan hak-hak asasi petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan yang terkandung dalam Deklarasi PBB itu akan menjadi dasar norma dan indikator keberhasilan untuk implementasi agenda Dekade Keluarga Pertanian PBB,” tegasnya.

Zainal menambahkan, hak atas tanah, hak atas air, hak atas benih, hak-hak petani perempuan ketika diakui, ditegakkan, dan dilindungi, adalah solusi untuk tantangan saat ini yang dihadapi sistem pangan dunia.

“Hak-hak ini, yang diabadikan dalam perjanjian, pedoman, dan yang paling penting dalam Deklarasi PBB yang saya sebutkan di atas, dapat memberdayakan petani dan petani keluarga di seluruh dunia untuk mengurangi konflik sosial, krisis pangan, kemiskinan, migrasi, alam, kehancuran bumi, hingga krisis iklim, serta untuk menarik dan menjaga agar semakin banyak kaum muda di pertanian dan di daerah pedesaan tertarik untuk kembali menjadi petani,” papar Zainal yang juga Komite Koordinator Internasional La Via Campesina (Gerakan Petani Sedunia).

Zainal menutup ceramahnya dengan mengajak semua pihak, mulai dari perwakilan negara, FAO, organisasi tani dan petani anggotanya untuk saling bahu membahu bekerja sama, mulai dari level desa hingga level internasional.

“Karena kita semua menyadari apabila kita semua tidak bekerja tentunya niat baik PBB tidak akan bisa sukses,” tutupnya. 

(rm)