ferry-okOleh: Ferry Arbania, Pemred MaduraExpose.com

Hingga detik ini, saya belum habis pikir dengan banyaknya oknum ‘brengsek’ yang suka ngaku-ngaku wartawan dengan memanfaatkan berita tertentu yang ditayangkan oleh media cetak dengan tujuan mengambil keuntungan finansial dan kompensasi tertentu. Ironisnnya, banyak pejabat ‘bodoh’ yang mau saja ‘diakali’ oleh bajingan yang nyaru sebagai wartawan yang kian meresahkan ini.

Banyak peringatan dipublikasikan, banyak warning sengaja dipampang awak redaksi sebuah pemberitaan agar jangan percaya begitu saja dengan ‘siapa saja’ yang mencatut sebagai mareketing atau wartawan dari sebuah media berpengaruh karena berita-beritanya selalu menyajikan berbagai kasus besar.

Mestinya tak usah panik dan menghujat, karena media dan wartawan profesional sudah barang tentu bekerja secara profesional untuk memberikan kontrol jelas atas sebuah ‘miringnya’ sebuah kebijakan anggaran atau perselingkuhan yang mengarah pada penyelewengan yang bisa merugikan uang negara maupun rakyat Indonesia.

Sedang wartawan gadungan bin brengsek itu hanya selalu memanfaatkan berita orang lain untuk urusan perutnya, tanpa memperhatikan dampak sosial yang dirugikan. Sebuah berita yang dicatut oleh orang yang bukan penulis (profesionalnya), sudah barang tentu akan menimbulkan kepanikan luar biasa dikalangan pejabat atau objek kasus yang tengah diberitakan.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Wartawan brengsek alias gadungan itu, diotaknya hanya mencari keuntungan besar dengan ‘menjual’ berita atau bisa jadi ditukar dengan setumpuk uang atau garansi menggiurkan, pastinya dengan iming-iming berita tak akan dimunculkan lagi di media massa.Jika yang di ‘mangsa’ kebetulan pejabat bodoh, pasti dia akan percaya begitu saja menuruti kemahuan preman media ini.

Keluarlah uang secara percuma, karena jaminan tak akan diberitakan lagi dimedia itu hanyalah tipu muslihat yang bersangkutan, yang seharusnya tak perlu dipercayai apalagi dituruti kemauannya memeras uang. Yah, ironisnya, korban yang dimangsa oknum wartawan itu malah nggak nyadar kalau dirinya sedang ditipu habis-habisan.

Kalau tadi saya bilang ada pejabat yang bodoh dan mengeluh sering terkena tipu oknum wartawan, pastinya banyak sekali pejabat yang cerdas dan tak mau dibodohi manusia topeng yang mengatasnamakan profesi wartawan sebuah media tertentu, tanpa ada kroscek terlebih dahulu dengan pemimpin redaksi atau penanggung jawab yang benar-benar bisa dipercaya.

Suatu kasus, beberapa oknum wartawan dan LSM beberapa waktu lalu pernah berurusan dengan aparat setelah sebelumnya memeras kepala desa dan kepala sekolah. Kenapa oknum wartawan ini bisa dijerat? Apakah oknum wartawannnya yang bodoh atau pejabatnya yang cerdas?.

Analisa saya, pejabat yang cerdas alias tidak bodoh, akan selalu berusaha mencari tahu setiap ada orang yang mengaku wartawan atau LSM yang tujuannya memeras sedetil mungkin. Tak ada ceritanya, wartawan dan LSM itu kerjaanya menukar data temuannya dilapangan dengan uang. Atau dengan bahasa lain, harus diwaspadai jika ada orang yang datang kepada anda sebagai pejabat publik, lantas mereka mengaku punya data kesalahan dan akan mengangkatnya di media massa apabila tidak menuruti keinginan jahat mereka menguras duit anda. Sebaiknya lawan saja bajingan media itu. Kalau mereka tetap ngotot, kasih saja duit setelah anda berkoordinasi dengan aparat kepolisian.

Semoga ini bermanfaat bagi rekan-rekan pejabat setingkat Kepala Desa, Kepala Sekolah, Kepala Dinas dan kepala-kepala jabatan lain, terutama dikawasan Madura. Jika Anda menemukan bajingan yang barangkali ngaku-ngaku wartawan Memorandum silahkan kontak kami dan pasti kami layani dengan sebaik mungkin.