Wajah Wakil Bupati di Panggung Depan: Estetika Kehadiran atau Sekadar Bayang-Bayang Tanpa Jawaban?

Terbit: 6 Januari 2026 | 18:22 WIB

Dalam beberapa purnama terakhir, lanskap media di Kabupaten Sumenep menampilkan anomali visual yang menarik untuk dibedah secara semiotika politik.

 

Wajah Wakil Bupati,  Imam Hasyim, tampak lebih dominan menghiasi ruang publik ketimbang sang nakhoda utama, Achmad Fauzi Wongsojudo.

 

Fenomena ini, dalam kacamata politik praktis, mungkin dianggap sebagai pembagian panggung yang harmonis—sepanjang restu sang Bupati tetap menjadi “imam” dalam setiap langkah “makmum”-nya.

 

Namun, dalam filsafat eksistensialisme, Jean-Paul Sartre pernah mengingatkan bahwa “Eksistensi mendahului esensi.” Kehadiran fisik Imam Hasyim di garis depan pemberitaan haruslah membawa esensi yang nyata bagi rakyat, bukan sekadar kehadiran estetik untuk memenuhi ruang kosong di kolom berita.

 

 

Retorika dan Realitas: Menagih Jawaban atas Luka Ekologi

Publik tidak sedang mencari sosok yang sekadar pandai berpose atau memotong pita seremonial. Di tengah hiruk-pijak tuntutan mahasiswa dan keresahan masyarakat, kita butuh “suara” yang mampu meredam badai. Kehadiran Wabup yang masif di media seyogianya menjadi perisai intelektual dan kebijakan bagi pemerintah daerah.

 

 

Sumenep hari ini sedang dirundung kegelisahan yang konkret:

  1. Gugusan Galian C yang kian menganga, menyisakan luka pada tubuh bumi.
  2. Keterbukaan Informasi Migas melalui KKKS yang masih sering terasa seperti labirin gelap bagi warga lokal.
  3. Riuh Rendah Kerusakan Ekologi akibat aktivitas uji seismik dan eksploitasi yang mengancam keseimbangan alam Madura.

Secara filosofis, kekuasaan adalah mandat untuk merawat kehidupan (the care of life). Jika Wabup Imam Hasyim memilih untuk tampil di baris terdepan, maka ia secara moral memikul beban untuk menjawab persoalan-persoalan krusial tersebut. Kehadirannya di media jangan sampai menjadi “mubazir” jika hanya berisi narasi normatif yang kering dari substansi solusi.

 

Harmoni Kepemimpinan: Agar Tak Menjadi Simbol yang Kosong

Jurnalisme tidak hanya mencatat siapa yang tampil, tapi apa yang diperjuangkan oleh yang tampil. Kita tidak mempersoalkan siapa yang lebih banyak muncul di layar, sebab dalam politik, delegasi adalah hal lumrah. Namun, delegasi tanpa eksekusi adalah sebuah ornamen tanpa fungsi.

 

 

Jika Bupati Fauzi memberikan panggung luas kepada Wakilnya, maka panggung itu harus dijadikan altar untuk menjawab keresahan rakyat. Jangan sampai publik menyimpulkan bahwa dominasi wajah di media hanyalah upaya untuk menutupi kegagapan dalam menghadapi jeritan ekologis dan tuntutan transparansi migas.

 

 

Redaksi Maduraexpose.com memandang bahwa fungsi Wakil Bupati sebagai “pembantu” Bupati harus dimaknai dalam konteks filosofis Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayan). Tampil di media adalah sarana pertanggungjawaban publik, bukan sekadar panggung citra.

 

 

Rakyat Sumenep menantikan Imam Hasyim bukan hanya sebagai sosok yang “nongol”, tapi sebagai negarawan yang mampu mengurai benang kusut galian C dan memberikan cahaya pada gelapnya informasi migas.

 

Sebab, di atas segala narasi media, keadilan ekologi adalah hukum tertinggi yang tidak bisa ditawar dengan sekadar senyuman di balik lensa.

“Salam Bismillah, Melayani!!”

 

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    HPN 2026: Pers Madura Bukan Sekadar “Tukang Foto”, Tapi Penjaga Waras di Era Digital

    Terbit: 11 Februari 2026 | 13:55 WIB EDITORIAL – Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 ini bukan sekadar seremoni potong tumpeng atau bagi-bagi plakat. Bagi kami di Madura Expose, momen…

    TAJUK: Menanti Nyali Kejari Sumenep—Ojo’ Mateh Angen, Segera Seret Dalang Korupsi KPU!

    Terbit: 10 Februari 2026 | 11:37 WIB MADURA EXPOSE, SUMENEP – Rakyat Sumenep bukan kumpulan orang bodoh yang bisa terus-menerus disuapi janji dan alasan teknis. Di atas tanah ini, kejujuran…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *