MADURAEXPOSE.COM–Baru-baru sebuah media online merilis tulisan panjang Achmad Fauzi, mantan jurnalis yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Sumenep, mendampingi A.Busyro Karim untuk priode 2015-2022.

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

Ada yang menarik perhatian redaksi, ketika menyimak pragraf terakhir dari pemikiran Achmad Fauzi, terkait dengan pilihan wartawan menampilak karya jurnalistik yang menarik.

“Berita yang menarik itu memang diperlukan, tetapi tidak selamanya yang menarik harus bombastis, apalagi sadis dan cabul”, ungkapnya yang dirilis dan telah disebar kesejumlah media sosial facebook.

Wabup Fauzi merinci, kehadiran Pers itu sejatinya sebagai penegak demokrasi dengan menjunjung nilai-nilai keadilan dan mencerdaskan masyarakat.

“Jadi pers itu bukan hanya berfokus pada mengejar rating, tiras, atau apalah namanya itu yang berujung pada keuntungan saja, jauh lebih besar dari itu, pers adalah mampu mencerdaskan, bukan menyesatkan,” tandasnya.

Adapun hal yang patut menjadi renungan bagi awak media tersebut,lanjut Fauzi, kehadiran para pemburu berita tersebut diharapkan mampu menepi dari persoalan sinisme berlebihan demi menciptakan demokrasi yang matang. Harapan lain yang tumbuh dalam benaknya adalah, bagaimana kehadiran Pers di Sumenep khususnya, mampu menjawab pelbagai persoalan kekinian. Termasuk persoalan demokrasi, pendidikan yang masih linglung, dan sederet persoalan lain seperti masalah etika.

Achmad Fauzi menangkap adanya pergesaran nilai yang cukup mencengangkan,dengan banyaknya perilaku jurnalis yang seolah-olah hanya menjadi pelengkap derita dan cenderung menghilangkan idalisme jurnaslitiknya yang sebetulnya sangat dirindu oleh masyarakat luas.

“Jawabannya simple, dunia jurnalisme sudah mengalami shifting paradigm; era jurnalisme negatif. Dimana jargon ‘bad news is a good news’ marak diusung oleh berbagai media, mulai dari media nasional hingga lokal,” tandasnya.

Hal prgamatis yang mungkin kerap menjadi momok disejumlah kalangan, bisa jadi karena sajian pemberitaan yang bombastis dan terkesan sadis itu belum juga hilang sepenuhnya.

“Akibatnya, masyarakat mulai jengah dengan pemberitaan bombastis yang bersifat menghasut dan propagandis. Maka menghadirkan jurnalisme yang damai, santun dan tidak berbau sadis hingga cabul juga perlu dilakukan semua media,” imbuhnya melanjutkan.

Wabup Fauzi banyak berharap, kehadiran pers di Sumenep, mampu menyentuh seluruh lapisan pembacanya dengan menyajikan berita yang lebih sejuk dan manusiawi, sebagai sarat mutlak kehadiran media pemberitaan tidak keluar dari subtansialnya.

” Agar pers betul-betul sesuai fungsinya, tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mencerdaskan dan mendidik”, pungkasnya. [Ferry Arbania]