UAS: Saya Bukan Syiah, Bukan Komunis, Tapi Saya Lawan Penjajah Palestina!

Terbit: 7 Maret 2026 | 07:47 WIB

MADURA EXPOSE, JAKARTA – Di tengah kecamuk rudal yang menghujani Teheran, Ustaz Abdul Somad (UAS) mengirimkan pesan yang menggetarkan meja diplomasi internasional. Sebagai ulama yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), UAS menegaskan posisinya tidak ditentukan oleh sekat mazhab, melainkan oleh nilai kemanusiaan dan keadilan bagi Palestina. “Saya ahlussunnah, berbeda dengan syiah. Saya tegak bersama siapapun yang membela Palestina,” tegas UAS (4/3/2026).

Pesan UAS ini seolah menjadi antitesis bagi pihak-pihak yang mencoba “memancing di air keruh” dengan membenturkan isu Sunni-Syiah. Baginya, siapa pun yang berdiri melawan penjajahan—mulai dari Vladimir Putin hingga Xi Jinping—adalah kawan dalam perjuangan kemanusiaan, tanpa harus menjadi penganut ideologi mereka.

Analisis Administrasi Geopolitik: Menakar ‘Langkah Salah Kaprah’ Board of Peace

Dalam perspektif Administrasi Kebijakan Luar Negeri, kritik tajam juga datang dari Din Syamsuddin terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) besutan Donald Trump. Din menilai langkah pemerintah sebagai bentuk “terpedaya” oleh skenario kamuflase yang justru memberikan rasa aman bagi Israel di tengah genosida Palestina. Bergabungnya Indonesia dalam forum tersebut dianggap mengurangi political leverage (pengaruh politik) Jakarta sebagai penengah yang netral.

Secara administratif, diplomasi “Bebas Aktif” Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Umat Islam diingatkan untuk tidak terjebak dalam politik divide et impera (adu domba) yang dimainkan melalui isu Arab-Persia atau Sunni-Syiah. Tantangan besar bagi kepemimpinan nasional adalah membuktikan bahwa kemitraan strategis dengan AS tidak mengorbankan integritas moral bangsa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Menekan AS dan Israel untuk menghentikan agresi adalah indikator kinerja utama jika Indonesia tidak ingin dianggap hanya menjadi sekutu bayangan di panggung global.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Dandim ‘Sowan’ ke Annuqayah: Menguji Resiliensi Birokrasi di Rahim Pesantren

Dandim 0827 Sumenep Letkol Inf Citra Persada silaturahmi ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk.

Nalar Sirkular: Ketika Pesantren Menaklukkan Paradigma ‘Limbah’

Terbit: 21 Maret 2026 | 09:30 WIB MADURAEXPOSE.COM | SUMENEP – Di tengah krisis pengelolaan sampah nasional, institusi pendidikan tradisional Islam (Pesantren) justru muncul sebagai pionir ekonomi sirkular yang pragmatis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *