Trunojoyo: Mujahid Madura yang Mengguncang Takhta Mataram dan Melawan Hegemoni VOC

Terbit: 22 Januari 2026 | 14:38 WIB

Oleh: Redaksi MaduraExpose.com

Kisah Pangeran Trunojoyo bukan sekadar narasi pemberontakan biasa; ia adalah fragmen paling dramatis dalam sejarah Nusantara abad ke-17. Seorang bangsawan dari pulau garam yang berhasil meruntuhkan kewibawaan keraton Mataram dan membuat kompeni Belanda gemetar. Berikut adalah catatan panjang sejarah perlawanannya yang kami himpun dari berbagai literatur terpercaya.


Latar Belakang: Bara Api dari Plered

Pemberontakan Trunojoyo dipicu oleh akumulasi luka sejarah dan etika kekuasaan yang dilanggar oleh Amangkurat I. Berdasarkan catatan sejarah, Amangkurat I memerintah dengan tangan besi yang memicu ketidakpuasan meluas.

  • Kezaliman Tanpa Batas: Amangkurat I dikenal sebagai raja yang kejam, termasuk peristiwa pembantaian ribuan ulama dan keluarga bangsawan di alun-alun Plered. Hal ini menciptakan keretakan antara rakyat, ulama, dan istana.

  • Aliansi dengan VOC: Demi mempertahankan kekuasaan, Amangkurat I menjalin kemitraan strategis dengan VOC (Belanda). Langkah ini dianggap sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Nusantara, menjadikan Mataram sebagai “boneka” dominasi asing.

  • Harga Diri Madura: Trunojoyo (Raden Nila Prawira) adalah putra dari Raden Demang Melayakusuma yang dibunuh oleh Amangkurat I. Dorongan untuk memerdekakan Madura dari cengkeraman Mataram menjadi misi suci (Jihad) bagi Trunojoyo.

Puncak Pemberontakan (1674-1679): Jawa Gemetar

Perlawanan Trunojoyo mencapai puncaknya melalui aliansi lintas etnis yang sangat kuat. Ia tidak berjuang sendiri; ia menggandeng kekuatan Karaeng Galesong dari Gowa (Sulawesi) yang merupakan pejuang tangguh pasca-perjanjian Bongaya.

  • Kemenangan di Gegodog: Pada 1676, pasukan Trunojoyo menghancurkan pasukan besar Mataram di pantai utara Jawa (Gegodog). Kemenangan ini membuka jalan bagi jatuhnya Surabaya dan kota-kota pesisir lainnya.

  • Jatuhnya Ibu Kota Mataram: Puncaknya terjadi pada Juni 1677, ketika pasukan Trunojoyo berhasil menduduki Plered, Ibu Kota Mataram. Amangkurat I terpaksa melarikan diri ke arah barat hingga akhirnya mangkat di Tegalarum.

  • Proklamasi Kediri: Trunojoyo memindahkan pusat kekuatan ke Kediri dan menggelari dirinya sebagai Panembahan Maduretno, simbol penguasa Jawa Timur yang tidak tunduk pada Mataram maupun VOC.

Akhir Perlawanan: Pengkhianatan dan Eksekusi Brutal

Kekuatan Trunojoyo baru mulai goyah ketika VOC mengerahkan kekuatan penuh di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Belanda menyadari bahwa Trunojoyo adalah ancaman nyata bagi monopoli perdagangan mereka.

  • Desakan Terakhir: Setelah benteng Kediri jatuh pada 1678, Trunojoyo bergerilya di hutan-hutan lereng Gunung Kelud. Akibat pengkhianatan dan tekanan gabungan Mataram-VOC, ia akhirnya menyerah demi menyelamatkan pengikutnya yang tersisa di wilayah Payak pada Desember 1679.

  • Kematian Seorang Ksatria: Pada 2 Januari 1680, terjadi momen paling memilukan dalam sejarah Jawa. Amangkurat II, yang awalnya ingin memberi ampunan karena pengaruh desakan VOC dan harga diri pribadi, justru mengeksekusi Trunojoyo secara brutal. Trunojoyo ditikam dengan keris oleh Amangkurat II di depan para bangsawan. Tubuhnya dipenggal, dan kepalanya kabarnya sempat dijadikan pijakan tangga istana sebelum akhirnya diperlakukan secara tidak manusiawi—sebuah simbol betapa takutnya Mataram terhadap karisma sang pangeran.

Warisan Sejarah: Simbol Perlawanan Abadi

Meskipun pemberontakan ini berakhir dengan kemenangan di pihak Mataram-VOC, dampak yang ditinggalkan sangat masif:

  1. Hancurnya Kedaulatan Mataram: Mataram terpaksa membayar biaya perang kepada VOC dengan memberikan hak-hak ekonomi yang luas, yang menjadi awal mula penjajahan Belanda secara total di tanah Jawa.

  2. Inspirasi Nasionalisme: Trunojoyo kini diakui sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan sebagai nama universitas terbesar di Madura (Universitas Trunojoyo Madura) dan menjadi simbol kebanggaan rakyat Jawa Timur atas keberanian melawan tirani.

Redaksi MaduraExpose.com mencatat bahwa sejarah Pangeran Trunojoyo adalah pengingat bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman dan persekutuan asing hanya akan melahirkan perlawanan yang tak pernah padam.**

Baca Juga:

Tour De Trunojoyo: Menjelajahi 5 Situs Keramat Saksi Perlawanan Mujahid Madura

  • administrator

    www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

    Related Posts

    RAHASIA TANEROS

    Terbit: 29 Maret 2026 | 18:17 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Di balik deburan ombak Pesisir Beluk Ares, Kecamatan Ambunten, tersimpan sebuah rahasia geografis yang jarang disadari publik. Pantai Taneros (atau…

    Memoles Tuah Janur di Pantai Lombang

    Terbit: 27 Maret 2026 | 21:28 WIB SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep menegaskan komitmennya dalam mentransformasi tradisi lokal menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah. Melalui penyelenggaraan Festival Ketupat 2026 di Pantai…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *