Tragedi Perburuan Paus

0
751

In The Heart of The Sea diangkat dari kisah nyata tenggelamnya kapal pemburu paus Essex akibat diserang paus putih raksasa pada tahun 1820. Meski begitu, penuturannya mengambil inspirasi dari novel Moby Dick karya Herman Melville.

Moby Dick adalah novel fiksi tentang aksi balas dendam sang kapten kapal terhadap paus putih yang menyerangnya. Herman Melville (Ben Whishaw) datang ke rumah Thomas Nickerson (Brendan Gleeson) untuk obsesi yang lama menghantuinya; kisah tak terungkap tentang paus raksasa yang menyerang kapal pemburu paus. Apa yang diinginkan Herman nyaris mustahil karena Thomas tak pernah menceritakan peristiwa tersebut kepada siapa pun, termasuk istrinya.

Jelas, awalnya dia menolak bercerita. Namun, atas desakan istrinya, Thomas akhirnya mau bertutur tentang kisah pilu puluhan tahun silam saat usianya masih 14 tahun. Thomas muda adalah kru kapal Essex. Dia menjadi saksi perseteruan terang-terangan antara kapten kapal George Pollard (Benjamin Walker) dan kelasi kelas satu Owen Chase (Chris Hemsworth).

Sebenarnya, Chase-lah yang layak menjadi kapten kapal karena pengalamannya berjibaku di laut. Namun, karena darah Pollard adalah keturunan bangsawan dan pembuat kapal, dialah yang didaulat menjadi kapten kapal. Kapal yang mereka bawa adalah kapal yang ditugaskan untuk memburu paus. Pada masa itu paus diburu untuk diambil minyaknya sebagai bahan bakar.

In The Heart of The Sea menuturkan dengan lancar tentang perburuan paus, konflik antara kru kapal, dan perjuangan bertahan hidup di laut lepas selama berbulan-bulan, setelah kapal Essex dihancurkan paus putih. Namun, kelancaran bertutur tersebut kurang diberikan kejutan-kejutan kecil yang membuat penonton merasa harus terikat terus dengan para karakter di film.

Memang, banyak adegan dramatis dalam film garapan Ron Howard ini. Saat paus raksasa menyerang dan membanting kapal besar, saat Thomas harus masuk ke dalam lambung paus yang sudah mati, juga tentang cara para penyintas bertahan hidup dengan cara yang mengerikan. Adegan ini beberapa kali digambarkan dengan sangat baik.

Namun, bagi penonton, adegan serangan ikan raksasa dan cara bertahan hidup, beserta kondisi psikologis yang dialaminya, bukanlah cerita baru. Kita pernah melihatnya dalam Jaws , Alive , termasuk Life of Pi . Dalam hal ini, tak ada yang baru dan lebih dramatis yang bisa ditawarkan In The Heart of The Sea.

Satu-satunya hal yang masih berfungsi, mungkin adalah visual yang cukup berhasil menggambarkan kondisi di laut lepas. Singkatnya, In The Heart of The Sea bukanlah film yang buruk. Film ini layak dinikmati. Namun, tidak menawarkan sesuatu yang baru kepada penonton.

herita endriana