Kitab Kuning dan Tradisi Riset Pesantren

0
1344
Ilustrasi/google

MADURA EXPOSE.— Intelektualisme pesantren pernah memiliki tradisi riset yang cukup kuat.Kitab-kitab karya ulama Nusantara pernah beredar dan menjadi rujukan pentingdi Jazirah Arabia. Selain dalam bentuk kitab, juga lahir babad-babad, serat-seratraksasa, local wisdom,living history, yang beraneka tema dan ekspresinya.

Akan tetapi, penting digarisbawahi bahwa karya-karya Nusantara tersebut tidak mungkin lahir tanpa riset yang mendalam, tekun, dan panjang. Bangunan- bangunan masjid yang sangat estetik juga tidak mungkin lahir tanpa risetterlebih dahulu (Mustafied dkk, 2013: 5).

Karena itu, untuk menopang perjuangan, dalam bidang pengetahuan, pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, kebudayaan, secara lebih optimal dantransformatif, pesantren harus mentradisikan kembali kekuatan riset yang telahlama hilang. Menurut Mustafied dkk (2013: 5) dengan riset, maka semuaaktivisme pesantren akan berbasis pada data dan hasil riset yang valid.

Kebu-tuhan mengembangkan riset strategis dalam lingkungan pesantren bukan hanyauntuk menjawab tantangan eksternal, namun juga untuk mengoptimalkan potensi, melipatgandakan peran, dan memperteguh posisinya sebagai kekuatan transformatif bangsa.

Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki karakteristik tipikal, pesantrenmemiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi keilmuan lembaga-lembaga lain (Siswanto, 2006: 920). Apabila diamati dalam konteks aktivitas pendidikannya, pesantren lebih banyak memfokuskan pada
tafaqquh fi al-di>n ,yaitu pendalaman pengalaman, perluasan pengetahuan dan penguasaankhazanah ajaran agama Islam.

Penulis: A. Muqoyyidin
Judul Asli:Kitab Kuning dan Tradisi Riset Pesantren di Nusantara
Download artikel aslinya via PDF gratis disini