Alarm Narkoba di Sarang Polisi: Saat 26 Kapolsek ‘Dipaksa’ Kencing Mendadak

Terbit: 2 Maret 2026 | 23:43 WIB

SUMENEP – Bayang-bayang kelam keterlibatan sejumlah elit Polri dalam pusaran bisnis gelap narkotika di tingkat nasional rupanya menjadi “hantu” yang harus segera diusir dari Bumi Sumenep. Tak ingin marwah institusi roboh oleh ulah oknum, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto melakukan langkah radikal dengan menggelar tes urin mendadak bagi 26 Kapolsek jajarannya, Senin (2/3/2026).

Langkah “bersih-bersih” ini dilakukan tepat setelah upacara PTDH, seolah ingin menegaskan bahwa tidak ada ruang kompromi bagi siapa pun yang berani menyentuh barang haram. Dalam Teori Pengawasan Internal Administrasi Publik, tindakan sidak atau pemeriksaan tanpa pemberitahuan adalah instrumen paling efektif untuk menjaga integritas organisasi yang memiliki risiko tinggi (high-risk organization) seperti kepolisian.

Tamparan Keras bagi ‘Pagar Makan Tanaman’ Kasus-kasus besar yang menyeret jenderal hingga perwira menengah kepolisian dalam perkara narkoba belakangan ini telah menciptakan luka dalam pada tingkat kepercayaan publik. Tes urin di Aula Tungga Mapolres Sumenep ini bukan sekadar rutinitas medis, melainkan sebuah pernyataan politik institusional: Bahwa penegak hukum tidak boleh menjadi pemain dalam lingkaran setan yang mereka tumpas sendiri.

“Anggota Polri harus menjadi teladan. Pengawasan berkala ini adalah implementasi zero tolerance. Kami tidak ingin ada ‘pagar yang makan tanaman’ di Sumenep,” tegas AKBP Anang Hardiyanto di hadapan jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Sumenep.

Transparansi di Bawah Monitor Propam Hasilnya, 26 Kapolsek dinyatakan negatif. Namun, pemeriksaan yang diawasi ketat oleh Seksi Propam dan Dokkes ini mengirimkan pesan psikologis yang jelas bagi seluruh personel: Pengawasan melekat tidak pernah tidur. Di tengah upaya Polri mengejar predikat “Presisi”, menjaga sterilitas internal dari kontaminasi narkotika adalah harga mati untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang sempat luruh.

Langkah preventif ini diharapkan menjadi benteng moral bagi para pemegang komando di tingkat kecamatan agar tetap tegak lurus pada sumpah jabatan, menjauh dari godaan rupiah di balik serbuk putih yang telah menghancurkan karier banyak elit di Korps Bhayangkara.

Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose

Layanan Pembaca: Sampaikan informasi atau aduan melalui email: maduraexposenews@gmail.com.

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Razia Bandara Trunojoyo: 48 Motor Brong Dikandangkan, Polres Sumenep Tebas Balap Liar

Terbit: 20 April 2026 | 13:50 WIB SUMENEP, MaduraExpose.com – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sumenep melakukan tindakan tegas terhadap maraknya aksi balap liar yang meresahkan warga di kawasan jalur…

Modus Tanya Alamat Berujung Jambret, Emas Rp70 Juta Milik Warga Guluk-Guluk “Terbang” ke Pamekasan!

Terbit: 3 April 2026 | 14:20 WIB SUMENEP – Kepolisian Sektor (Polsek) Guluk-Guluk, di bawah komando Polres Sumenep, berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) yang meresahkan warga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *