Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani
Indonesia berduka, setelah wafatnya Ulama besar Nusantara di kota suci Makkah Al-Mukarromah, hari selasa, tanggal 6 Agustus tahun 2019. Kita berdo’a untuk Mbah Maemun Zubair, semoga beliau ‘min husnil khootimah, min ahlis sa’adah wa min ahlil jannah. Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin.

Kami menjadi saksi atas kemuliaan akhlak beliau, keulamaan dan ketawadhuannya. Sosok ulama pejuang yang pernah banyak merasakan pahit getirnya mempertahankan Islam di zaman kolonial, bahkan Orde Baru. Ketika dengan PPP nya beliau selalu dicurigai dan dimata-matai. Ketika dengan lambang ka’bahnya Partai beliau dianggap subversif, mengancam negara.

Andai saja Mbah Moen tidak istiqomah, bisa saja beliau tunduk di bawah kendali penguasa saat itu. Untungnya beliau sabar, istiqomah di jalan dakwah sekalipun banyak tekanan dari berbagai arah. Beliau tetap bertahan dengan simbol Keislaman di lambang partainya, sebagai wujud kebanggaan atas apa yang Islam punya.

Dulu, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi pilihan Mbah Moen dalam menyalurkan aspirasi umat melalui jalur politik. Di zaman Orde Baru, PPP merupakan satu-satunya partai Islam setelah dilakukannya fusi atas perintah Soeharto selaku presiden kala itu, 5 Januari 1973.

Beliau begitu cinta kepada Arab, sebab di sana ada kota suci Mekkah yang di dalamnya ada Ka’bah. Beliau juga cinta kepada Para Dzurriyah, yang merupakan keturunan manusia paling mulia, yakni Nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya beliau menjadi orang yang membela Arab ketika Arab coba dilecehkan, beliau menjadi pembela HR Shihab ketika beliau banyak yang menghinakan.

Pernyataan yang cukup fenomenal dari Mbah Moen adalah ketika beliau mengomentari Aksi 212. Beliau mengatakan, bahwa HR Shihab itu termasuk wali. Tidak boleh ada orang yang mencaci maki, apalagi nenyakiti. Coba, siapa orangnya yang bisa mengumpulkan Tujuh Juta orang di Monas kalo bukan wali.

Begitulah kira-kira pembelaan Mbah Moen kepada Sang Imam Besar umat Islam Indonesia. Termasuk juga pembelaan beliau kepada Arab ketika ada yang menghinakan. Mbah Moen begitu hati-hati menjaga ukhuwah umat, itulah yang menjadi keistimewaan beliau.

Beliau mau memuliakan HR Shihab sekalipun Sang Habib banyak yang menyebutnya radikal. Mbah Moen tetap memuliakan HR Shihab sekalipun beliau adalah pejuang Syariah dan Khilafah. Sebab, bagi beliau, persaudaraan karena agama haruslah di atas segalanya. Apalagi terhadap cucu Rasulullah saw. yang mulia.

Sebagai hasil daripada ukhuwahnya itu, ketika beliau dikebumikan, maka Habib Muhammad Bin Idrus Al-Hadad lah (Imam pembacaan maulid ketika aksi 212) yang mengimami shalat jenazahnya, Habib Hanif Al-Athas (menantu HR Shihab) yang mentalqinnya dan HR Shihab yang memimpin do’anya. Masyaa Allah.

Selamat Jalan, Mbah Moen. Surga merindukanmu. Lahu Al-Faatihah!

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 7 Agustus 2019