Ilustrasi foto: Tempo.co

Sumenep, MaduraExpose.com- Harmonisasi antara Bupati Sumenep A.Busyro Karim dan Wakil Bupati Soengkono Sidik kian memperihatinkan setelah hampir 5 tahun mereka bersama setelah memenangkan Pilkada Sumenep 2010 silam.

Saat Pilkada Sumenep 2010, pasangan A.Busyro Karim dan Soengkono Sidik (Abussidik) mendulang suara terbanyak dan terpilih menjadi Bupati dan Wabup untuk priode 2010-2015.

Entah persoalan apa yang membuat kedua tokoh ini tidak bisa dilanjutkan lagi mnejadi satu paket untuk maju lagi menjadi pasangan Abussidik Jilid II. Bahkan yang semat mengemuka di media justru pasangan Super Mantap Jilid II yang nota bene tidak pernah ada di Jilid pertama.

Disinggung terkait tak ada kemungkinan melanjutkan Abussidik Jilid II, Wakil Bupati Sumenep Soengkono Siddik, saat diwawancarai MaduraExpose.com di ruang kerjanya kemarin mengaku tidak mau ambil pusing soal Abussidik. Dirinya sudah fokus untuk maju sendiri menjadi Calon Bupati Sumenep priode 2015-2020 pada Desember 2015 mendatan.

“Saya sudah bertekda untuk maju menjadi Cabup dari salah satu Parpol. Dillingkaran survei, suara saya masih bersaing dengan K.Busyro. Makanya banyak fitnah yang mengatakan saya mundur tidak mencalonkan lagi”, ujar Soengkono Siddik.

Soengkono mengaku ‘dianak tirikan’ dalam publikasi yang selama ini dikoordinir melalui bagian Humas Protokol Pemkab Sumenep. Harusnya menurut dia, Bupati dan Wakil bupati meruakan satu paket yang sama-sama memiliki hak dan tanggung jawab yang berat dalam membangun Sumenep.

Sementara Kang Nur, pengamat dari Sumekar Ntework mengaku prihatin dengan retaknya pasangan Abussidik di kancah Pilkada Sumenep 2015. Pihaknya juga mengomentari terkait publikasi kegiatan wabup yang sangat minim selama ini. Menurutnya, harusnya tidak menumuk pada publikasi yang didalamnya hanya memuat kegiatan Bupati Sumenep semata.

“Kami juga melihat, porsi pemberitaan ataupun publikasi lebih banyak terakomodir di Bupatinya ketimbang Wabup. Harusnya sama-sama diberi porsi yang sama karena tanggung jawabnya sama-sama berat”, kritik Kang Nur melalui MaduraExpose.com, Kamis 7 Mei 2015.

“Termasuk juga soal publikasi. Banyak kegiatan penting yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat Sumenep yang selama ini dilakukan Wabup, namun  tidak ter ekspose ke publik seperti halnya Bupati Sumenep. Mestinya porsinya berimbang, kalau perlu ya sama-sama dipublikasikan melalui kehumasan dong”, ujarnya.

 

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM

(Ferry Arbania)