Surat Terbuka untuk Bupati Sumenep: Mencari Sekda, Menemukan Retorika

Terbit: 22 Agustus 2025 | 11:47 WIB

Di tengah penantian akan suksesor definitif untuk kursi Sekretaris Daerah (Sekda) yang sebentar lagi ditinggalkan oleh Edi Rasiyadi, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melontarkan serangkaian pernyataan yang memancing kerut dahi. Alih-alih mengumumkan nama atau setidaknya memberikan petunjuk jelas, ia justru memilih jalur yang paling aman: menjual retorika.

 

Fauzi, dengan cermat, memaparkan kriteria yang sesungguhnya sudah menjadi konsensus umum di dunia birokrasi: profesionalisme, integritas, dan loyalitas. Sebuah pencerahan yang tidak mengejutkan. Ia berbicara tentang “kemampuan manajerial yang baik,” “memahami tata kelola pemerintahan,” dan “cakap administratif.” Kriteria ini bak kaset usang yang diputar ulang di setiap momen pergantian pejabat. Bukankah semua ASN, apalagi yang berada di level strategis, seharusnya sudah memiliki atribut-atribut tersebut?

 

Ironisnya, saat berbicara tentang integritas, Fauzi menyebutnya sebagai “hal yang seharusnya melekat.” Sebuah pernyataan yang secara implisit menunjukkan bahwa integritas adalah nilai yang perlu diingatkan, bukan hal yang sudah pasti ada. Lalu, ia menekankan loyalitas, seolah-olah kursi Sekda adalah mahkota yang hanya bisa dikenakan oleh mereka yang tunduk sepenuhnya pada kehendak penguasa, bukan pada visi kolektif pembangunan daerah.

 

“Harus loyal kepada Sumenep,” ujarnya, sebuah kalimat yang ambigu dan bisa ditafsirkan ganda. Loyalitas pada Sumenep idealnya berarti loyalitas pada masyarakat dan kemajuan, bukan pada kepentingan kekuasaan semata. Namun, dengan segala pernyataan yang berputar-putar ini, satu pertanyaan mendasar muncul: apakah proses pemilihan Sekda ini benar-benar didasarkan pada meritokrasi, ataukah ini adalah sebuah peragaan sandiwara politik untuk menutupi pilihan yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari?

 

Narasi yang disajikan oleh Bupati Sumenep, alih-alih memberikan kejelasan, justru semakin mengaburkan. Ia membangun dinding retorika yang tebal, menjebak audiens dalam labirin diksi klise tanpa substansi. Mengutip Shakespeare, “banyak kata-kata, tapi sedikit makna.” Sumenep butuh seorang nakhoda baru yang cekatan, bukan sekadar seorang orator yang piawai bersembunyi di balik kata-kata indah. Warga Sumenep berhak mendapatkan kejelasan dan transparansi, bukan hanya janji-janji yang tak berujung. 

Karay, Dhalem Temor: Jum’at 22 Agustus 2025.

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Menata Kata di Mimbar Damai

Terbit: 15 April 2026 | 00:00 WIB JAKARTA – Diskursus publik kembali menghangat menyusul pelaporan tokoh nasional Jusuf Kalla (JK) oleh sejumlah organisasi kepemudaan lintas iman terkait petikan ceramahnya di…

Haji Her di Hyatt dan Teka-teki KPK

Terbit: 10 April 2026 | 00:00 WIB MADURAEXPOSE.COM – JAKARTA – Tokoh sentral industri tembakau Madura, Khairul Umam alias Haji Her, akhirnya memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait pusaran…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *