hari-jadi-kota-sumenep-simbol-kerisSumenep, MaduraExpose.com- Penetapan sumenep sebagai kota keris tahun ini, terus menuai kritik dari kalangan budayawan Sumenep.

Pasalnya perubahan yang terus menerus terjadi tiap tahunnya soal prodak unggulan kebudayaan Sumenep menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten sumenep tidak memiliki platfom kebudayaan yang jelas.

Seperti pribahasa madura “Mothak Meghe’ Beleng” (Kera Menangkap Belalang), Bupati Sumenep kebingungan dalam membangun citra kebudayaan Sumenep.

Kritik keras itu diungkapkan langsung oleh salah seorang budayawan Sumenep Ibnu Hajar. Menurutnya, dalam tiap tahunnya, pemerintah seringkali membangun pencitraan kebudayaan yang tidak jelas.

“Tahun kemarin memabangun Sumenep Kota Batik, Sumenep kota Bunga orang bingung jadinya. Karena tidak ada satu pun kabupaten kota yang memiliki multy dimensional talent. Gak ada itu,” katanya.

Ibnu mengungkapkan, pencitraan kebudayaan sumenep sebagai kota keris menurutnya tidak di imbangi dengan pemetaan terhadap centra-centra pengrajin keris, mulai jaman empu hingga sekarang.

“Kalau memang begitu, kenapa tidak di tempatkan di centra-centra kerajinan keris salah satunya di aeng tong tong. Tetapi memang persoalannya, tiap tahunnya itu kita membangun citra kebudayaan itu tidak jelas,” katanya.

Menurut Ibnu, pemerintah Sumenep bisanya hanya membangun monumen tetapi lemah dalam perawatannya.

“Betapa tragisnya saya itu, ketika monumen perjuangan di guluk-guluk sampai saat ini tidak terawat. Bagaimana kita mampu menghargai jasa pahlawan kita sebagai bangsa yang besar, wong merawat monumen yang untuk mengenang mereka saja kita tidak pernah becus.

Masalahnya kita tidak memiliki kesadaran komunal kebudayaan lebih-lebih penentu kebijakan itu sendiri,” tandasnya.

Ketidakseriusan pemerintah Sumenep dibawah kepemimpinan Busyro terlihat dari pembuatan perda cagar budaya tahun 2014 akhir. Ibnu menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki keseriusan untuk merawat kebudayaan Sumenep.

“Sampai sekarang, lima tahun kepemimpinan, baru membuat perda cagar budaya tahun 2014 akhir. Dan itu masih belum diundangkan, walaupun sudah ditetapkan. Belum diundangkan di undang-undang negara, meskipun sudah ditetapkan di tingkat legislatif,” tandasnya.

Ketidakkonsistenan semcama ini menurut Ibnu hanya akan membuat PR yang banyak bagi pemimpin yang baru nantinya.

“Ya Syukur kalau K. Busyro terpilih lagi, dia akan menambah PR_nya untuk dirinya sendiri. Artinya kubangan ini dalam kacamata kebudayaan itu menggali kuburannya sendiri,” pungkas Ibnu di depan wartawan.

(G2k/Fer)