Sekeluarga Jadi tersangka, Korban Sebut Polsek Manding Tak Objektif

0
823

Mahfud dan keluarganya di Mapolsek Manding, Sumenep menjelang dievakuasi ke Kejari Sumenep. Tampak AKP Sumaryono, Kapolsek Manding hanya diam saat di cerca dengan protes oleh pihak keluarga tersangka. [Foto:Ferry Arbania/Maduraexpose.com]

Madura Expose- Mahfud salah satu warga Desa Tenunan yang dijadikan tersangka kasus penganiayaan oleh tim penyidik Polsek Manding mengaku didholimi oleh aparat penegak hukum.

Hal itu disampaikan Mahfud beberapa menit sebelum dirinya dihadapkan kepihak Kejaksaan Negeri (Kajari) Sumenep pada Kamis (3/2/2016) kemarin.

“Kami tidak terima diperlakukan tidak adil oleh polisi. Mereka (pelapor) yang memulai masalah dan menyerang istri saya. Kok tiba-tiba kami ditetapka sebagai tersangka penganiayaan”, ujar Mahfud kepada Madura Expose Kamis lalu di Mapolsek Manding, Sumenep.

Sehari sebelumnya, Mahfud bersama keluarganya menceritakan perihal sebenarnya hingga dirinya bersama seluruh keluarganya ditetapkan sebagai tersangka.

“Mereka (pelapor,Red) menuduh anak saya selingkuh dengan menantunya lalu mencakar istri saya sambil bilang kata-kata kotor dan memfitnah. Ini khan aneh, harusnya pertengkaran diadili kedua belah pihak dong”, imbuh Mahfud dengan bahasa Maduranya yang kental.

Anehnya lagi, hampir semua keluarga Mahfud ditetapkan sebagai tersangka, meski awalnya ditetapkan tersangka.

“Waktu kejadian, saya melerai ibu saya. Kok malah ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan juga”, ujar Sutantini.

Anehnya lagi, adik Sutantini yang nota bene tidak terlibat dalam pertengkaran antar dua keluarga itu juga jadi tersangka dan sama-sama dihadapkan ke pihak Kejari Sumenep setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap (P21).

“Saya yang tidak tahu menahu kasus itu malah juga dijadikan tersangka. Ini sangat aneh dan kami meras di dholimi”, tandasnya.

Adapun lima orang dalam satu keluarga yang ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan seperti dituduhkan pelapor Nur Aini, Warga Desa Tenunan, Kecamatan Manding, Sumenep yakni, Mahfud (Kepala Rumah Tangga), Marwatun (Istri), Sutantini (Anak), Moh Fathorrahman (Anak) dan Mulayani (Saudara perempuan).

Sementara Kapolsek Manding AKP Sumaryono ketika dikonfirmasi dan disinggung supaya dilakukan mediasi damai kedua belah pihak, dirinya mengatakan sulit dilakukan karena pihak Kepala Desanya tidak tegas.

Sementara ditanya kenapa tersangka diterapkan pasal penganiayaan padahal fakta sebenarnya, seperti disampaikan pihak terlapor, Mantan Kapolsek Giligenting itu malah bilang akan memperoses hukum kedua belah pihak. Namun pernyataan Kapolsek Manding ini berubah lagi setelah didatangi banyak wartawan dan mengklaim bahwa apa yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur. Dan ini jawaban AKP Sumaryono ketika disoal penerapan pasal 170 kepada lima orang tersangka?

“Ya itu dia, karena beramai-ramai”, ujarnya singkat.

[hym/fer]