Retro-Nostalgia Goes Viral! Ngonthel Keraton Sumenep: Ketika Sepeda Antik Menyatu dengan Culture Branding

Terbit: 12 Oktober 2025 | 20:34 WIB

SUMENEP – Kota Sumenep, Madura, pada Minggu (12/10/2025) sukses bertransformasi menjadi ‘time capsule’ raksasa. Ratusan onthelis (pesepeda tua) yang datang dari Sabang sampai Merauke membanjiri pusat kota, bukan untuk balapan, melainkan untuk ritual tahunan yang kini menjadi culture event ikonik: “Ngonthel Keraton Sumenep”.

 

Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-756, Taman Adipura sejak pagi telah dipenuhi vibes klasik. Para peserta tampil all out dengan kostum jadul, sepeda antik, dan yang terpenting: chemistry persaudaraan yang kental. Peristiwa ini membuktikan bahwa pesona warisan visual dan kearifan lokal punya daya tarik social bonding yang tak tertandingi di tengah hiruk pikuk digital.

 

Kekuatan Social Cohesion di Balik Kayuhan Santai

 

Ketua KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) Jawa Timur, Achmad Anshori, menegaskan bahwa Ngonthel Keraton adalah fenomena yang melampaui olahraga. Ini adalah perwujudan social cohesion komunitas.

 

“Ngonthel Keraton ini bukan hanya tentang sepeda tua. Ini tentang silaturahmi, tentang semangat mencari saudara di setiap kayuhan,” ujar Anshori.

 

Secara sosiologis, komunitas sepeda tua menunjukkan efek homogenitas yang luar biasa. Melalui kegemaran yang sama, komunitas ini mampu meleburkan berbagai latar belakang sosial menjadi satu energi kebersamaan. Anshori menekankan, di ranah persaudaraan sejati ini, yang tumbuh hanyalah cinta terhadap budaya bangsa.

 

Iksan: Culture Branding dan Event Marketing Pariwisata

 

Di sisi pemerintahan, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, melihat agenda ini sebagai strategi Culture Branding yang cerdas dan event marketing pariwisata yang sangat efektif.

 

“Kegiatan ini bagian dari Sumenep Calendar of Event 2025 kami. Selain melestarikan budaya, Ngonthel menjadi sarana promosi selling point wisata dan kuliner khas Sumenep bagi peserta dari luar daerah,” jelas Iksan, dengan diksi yang menekankan nilai ekonomi dan promosi.

 

Iksan menyoroti antusiasme peserta yang datang jauh-jauh dari Kalimantan hingga Sumatera sebagai bukti bahwa daya tarik event berbasis komunitas memiliki traction (daya tarik publik) yang kuat. Ini adalah validasi bahwa investasi pada event budaya mampu mendatangkan traffic pariwisata.

 

Pemerintah Kabupaten, lanjut Iksan, berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi Pentahelix dengan komunitas budaya. “Kegiatan semacam ini membuktikan bahwa budaya dan pariwisata bisa menjadi ruang persaudaraan. Sumenep tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga kaya semangat gotong royong yang harus terus dijaga,” tutupnya.

 

Ketika kayuhan terakhir usai di Taman Adipura, ratusan onthelis saling bertukar kenang-kenangan dan janji untuk kembali. Sumenep tidak lagi sekadar kota tua; ia telah menjelma menjadi panggung peradaban yang hidup, digerakkan oleh sinergi apik antara nostalgia, culture branding, dan semangat kebersamaan. [*]

Avatar

administrator

www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

Related Posts

Polres Sumenep Siaga: Antisipasi Kelangkaan BBM dan Kenaikan Harga Sembako

Terbit: 21 April 2026 | 22:42 WIB Sumenep (MaduraExpose.com) – Menanggapi keresahan masyarakat terkait isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, Polres Sumenep mengambil langkah preventif…

Dialektika Perencanaan: Sinkronisasi Epistemik dan Jembatan Masa Depan Sumenep

Terbit: 16 April 2026 | 13:26 WIB SUMENEP – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep bersama Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumenep menggelar diskursus intelektual bertajuk sarasehan untuk membedah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *