MADURA EXPOSE–Beragam tanggapan mulai bergulir kepermukaan,terkait relokasi pedagang kaki lima (PKL) Taman Bunga Sumenep yang dilakukan pada 1 Syawal 1437 H. atau lebaran Idul Fitri lalu.

Sejumlah pihak menilai, relokasi PKL itu dinilai masih belum urgen dengan meihat solusi yang dipersiapkan oleh Pemkab yang belum siap. Sebagian lagi menganggap, relokasi PKL tidak diimbangi dengan solusi yang jelas hingga menimbulkan dampak sosial seperti disampaikan oleh Nurus Salam, Anggota Komisi II DPRD Sumenep saat berbincang dengan MaduraExpose.com.

Sementara Moh.Irfan, aktivis dari Sumekar Network menilai, relokasi yang meminjam tangan Wakil Bupati Achmad Fauzi dinilai tidak maksimal karena dilakukan tanpa perhitungan yang matang hingga mengorbankan nasib para PKL yang mendapat pertentangan dari banyak kalangan di tempat mereka yang baru, yakni di depan Lapangan Giling Sumenep yang nota bene berdekatan dengan sekolahan dan kantoran.

“Harusnya Wabup ikut membantu menyediakan solusi yang tepat bagi para PKL. Apa artinya membuat program menciptakan lowongan pekerjaan, tapi disisi lain malah mematikan usaha banyak orang,” tegas Moh.Irfan, aktivis Sumekar Network kepada MaduraExpose.com Senin (18/7/2016).
PKL-SUMENEP
Pihaknya juga mempertanyakan deretan pertokoan disisi utara Taman Bunga Sumenep yang dinilai sangat menggangu keindahan kota.

“Kalau alasan pokok dari relokasi PKL Taman Bunga itu dinilai menganggu keindahan kota, harusnya pertokoan di utara taman itu juga dibongkar dan penjualnya disuruh pindah ke tempat lain. Biar adil dong dan tidak terkesan hanya berani terhadap wong cilik saja seperti para PKL,” pungkasnya. [Ferry]

MADURA EXPOSE, MENGAWAL KEPASTIAN HUKUM