SUMENEP, (MaduraExpose.com) – Langkah politik luar negeri Presiden Prabowo Subianto kembali memantik perhatian dunia. Kabar bergabungnya Prabowo dalam lingkaran organisasi atau inisiatif yang diinisiasi oleh Donald Trump menandai babak baru diplomasi “Bebas Aktif” Indonesia yang kian berotot. Langkah ini, meski menuai berbagai spekulasi, dipandang sebagai manuver jenius dalam menjaga keseimbangan stabilitas kawasan dan ekonomi nasional.
Secara Teori Administrasi Publik, pilihan Prabowo untuk menjalin kedekatan dengan faksi politik kuat di Amerika Serikat merupakan bentuk Anticipatory Governance. Prabowo seolah sedang memetakan jalur logistik dan pertahanan Indonesia di tengah ketidakpastian global. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turut memberikan atensi, menekankan bahwa setiap aliansi internasional harus tetap berpijak pada kemaslahatan umat dan kedaulatan bangsa.
Perspektif Geopolitik: Mata Elang dari Selatan Keterlibatan Prabowo dalam “Klub Trump” ini secara Ilmu Hubungan Internasional dapat dibaca sebagai upaya Indonesia untuk tidak terjebak dalam polarisasi tunggal. Dengan posisi tawar yang kuat, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo kini dipandang sebagai “Mata Elang” yang mampu melihat peluang di tengah badai krisis. Bagi Pentagon dan pasar global, stabilitas Indonesia adalah kunci, dan Prabowo dianggap sebagai figur yang mampu menjamin hal tersebut.
Narasi ini bukan sekadar tentang politik praktis, melainkan tentang bagaimana sebuah bangsa besar seperti Indonesia memainkan peran “Nelayan Samudra” yang cerdik—mampu menjaring peluang di perairan internasional yang keruh, demi kemakmuran rakyat di daratan.
Red./Editor: Ferry Arbania








