Populasi Suku Madura, Terbesar ke-3 di Indonesia

0
2086
GADIS MADURA: Para siswi SMP ini membawakan tarian khas Sumenep, Madura dalam rangka Hardiknas di depan Taman Adipura (Foto: Ferry Arbania)

Maduraexpose.com– Suku Madura, adalah salah satu suku di provinsi Jawa Timur, yang mendiami pulau Madura dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Populasi suku Madura termasuk yang ke-3 terbesar di Indonesia, diperkirakan lebih dari 6.800.000 orang.

Orang Madura tersebar di pulau Madura dan pulau-pulau kecil sekitarnya, yaitu pulau Gili Raja, Sapudi, Raas dan Kangean. Penyebaran orang Madura tidak hanya di Jawa Timur saja, tapi juga terdapat di provinsi lain bahkan di luar pulau Jawa seperti di Kalimantan bahkan sampai ke Malaysia.

Wilayah pemukiman orang Madura, terdiri dari 4 kabupaten, yaitu:

  1. Bangkalan
  2. Sampang
  3. Pamekasan
  4. Sumenep

Masyarakat Madura juga banyak yang ikut program transmigrasi ke wilayah lain, terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Hanya saja karena karakter orang Madura yang terkenal keras, sehingga membuat mereka agak susah beradaptasi dengan masyarakat di lingkungan barunya. Di beberapa tempat di Kalimantan, seperti di Sambas dan Sampit, pernah terjadi konflik antara masyarakat Madura dengan penduduk asli Kalimantan.

Kejadian ini  menjadi kenangan pahit bagi orang Madura, karena akibat konflik tersebut, puluhan ribu orang Madura yang tidak terlibat dalam kasus etnik tersebut terkena imbasnya dan kembali pulang ke kampung halamannya di pulau Madura atau ke tempat-tempat lain yang lebih aman, walaupun mereka masih berharap untuk bisa kembali ke Kalimantan meski warga Kalimantan khususnya Dayak bertegas untuk tidak menerima mereka kembali.

Asal-usul suku Madura, tidak diketahui secara pasti, hanya ada beberapa cerita rakyat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Menurut sebuah pendapat, bahwa orang Madura dahulunya adalah penduduk asli pulau Jawa yang menghindar dari tekanan para imigran baru yang semakin memenuhi pulau Jawa. Dari cerita lain mengatakan bahwa orang Madura adalah keturunan orang Jawa yang sengaja memisahkan diri dan tidak mau tunduk terhadap kekuasaan raja dan sultan di pulau Jawa.
Apabila dilihat dari struktur fisik orang Madura, pada umumnya orang Madura berkulit coklat matang dan gelap, rambut bergelombang, ikal dan ukuran tubuh sedang, sepertinya mereka memiliki ras mirip ke india-indiaan dari ras tamil, atau mungkin mendekati ras weddoid.

Clurit, alat pertanian dan senjata dan logat bahasa orang Madura juga mirip dengan orang India terutama Tamil. Kemungkinan mereka adalah bangsa-bangsa yang bermigrasi dari daratan India ke tanah Jawa, dengan membawa kebudayaan Hindu, sebelum masa Kerajaan Majapahit hadir di tanah Jawa.

Orang Madura pada dasarnya memiliki jiwa perantau. Jiwa perantau ini diakibatkan karena tanah Madura sendiri tidak subur untuk dijadikan lahan pertanian, sehingga memaksa mereka untuk merantau ke daerah-daerah lain untuk penghidupan yang lebih baik.
Karakter orang Madura, terkenal dengan gaya bicara yang blak-blakan dan logat yang kental, memiliki sifat temperamental dan mudah tersinggung. Mereka sangat hemat dan rajin bekerja. Mereka selalu menyisihkan sedikit penghasilan mereka untuk persiapan naik haji.

Masyarakat Madura secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Mereka adalah muslim yang taat dan fanatik. Agama Islam berkembang di Madura yang dibawa dari pulau Jawa. Tapi walaupun mereka telah mengenal agama Islam sejak lama, beberapa tradisi ritual lama masih tetap dijalankan seperti tradisi ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse.

Orang Madura berbicara dalam bahasa Madura, yang digunakan sebagai bahasa utama orang Madura. Walaupun kediaman orang Madura berada di wilayah Jawa, tapi banyak orang Madura yang tidak bisa berbahasa Jawa, tapi pada umumnya mereka bisa berbahasa Indonesia, tapi dengan dialek Madura yang kental. Bahasa Madura mempunyai penutur yang terpusat di pulau Madura, Ujung Timur pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi, kepulauan Kangean, kepulauan Masalembo hingga di beberapa daerah di pulau Kalimantan.
Bahasa Madura banyak dipengaruhi bahasa Jawa, Melayu, Bugis dan Tionghoa. Pengaruh bahasa Jawa terlihat dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Sumatra, tapi dengan lafal yang berbeda.
Bahasa Madura memiliki sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang lain yang ingin mempelajari bahasa Madura akan mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi.

Bahasa Madura memiliki beberapa dialek, yaitu:

  • dialek Bangkalan
  • dialek Sampang
  • dialek Pamekasan
  • dialek Sumenep
  • dialek Kangean

Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Untuk di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
Madura di masa lalu, sekitar tahun 900-1500, pernah berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singasari dan Majapahit. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada abad ke-18, Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.

Orang Madura adalah pekerja keras, mereka memiliki profesi yang beragam, selain bertani pada tanaman jagung, ubi beberap jenis sayuran. Tanaman lain adalah cengkeh dan tembakau, yang menjadikan wilayah Madura sebagai produsen penting bagi industri rokok domestik.

Selain itu Madura juga tekenal sebagai daerah penghasil garam. Profesi lain adalah beternak sapi, kambing dan domba. Sebagian kecil menjadi nelayan dengan menggunakan perahu cadik dengan jaring yang besar sedangkan para perempuan kebanyakan menjadi pedagang atau sebagai buruh.

(Deutro Malayan dan berbagai sumber)