Jejak Literasi Martha Suprihastini: Dari Meja Penulis Menuju Transformasi Digital Desa Penambangan
Eks Kades Penambangan yang Ubah Wajah Desa Lewat Pena dan Digitalisasi

oleh -134 Dilihat
Profil Martha Suprihastini mantan Kepala Desa Penambangan Bondowoso
Martha Suprihastini/Istimewa.
Terbit: 19 Februari 2026 | 01:35 WIB

BONDOWOSO, MaduraExpose.com – Di sebuah sudut Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, cerita tentang perubahan tidak selalu dimulai dari ruang rapat yang kaku atau podium resmi yang megah. Kadang, perubahan besar lahir dari kebiasaan yang sangat sederhana: membaca, menulis, dan kemauan untuk terus belajar. Itulah jalan sunyi namun bermartabat yang ditempuh oleh Martha Suprihastini.

Perempuan kelahiran 2 Maret 1980 ini dikenal warga bukan hanya sebagai mantan Kepala Desa Penambangan, tetapi juga sebagai sosok visioner yang percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci kemajuan. Bagi Martha, literasi bukan sekadar deretan huruf, melainkan fondasi untuk membangun peradaban dari tingkat akar rumput.

Revolusi Sanitasi dan Fondasi Kesejahteraan

Selama dua periode memimpin desa (2012–2023), Martha menanamkan prinsip bahwa pembangunan harus menyentuh kebutuhan paling nyata masyarakat. Salah satu gebrakan monumental yang ia lakukan adalah membedah kondisi sanitasi warga.

Menemukan fakta bahwa sekitar 500 kepala keluarga (KK) belum memiliki fasilitas sanitasi layak, Martha tidak tinggal diam. Ia mengawal program pembangunan WC secara bertahap setiap tahun. Hasilnya? Kini seluruh warga Desa Penambangan memiliki akses sanitasi memadai—sebuah langkah kecil yang menjadi fondasi kesehatan desa yang lebih besar.

Membangun ‘Jembatan Digital’ di Enam Dusun

Tak berhenti di urusan fisik, Martha membawa Desa Penambangan melompat ke era digital. Ia menggagas pemasangan WiFi gratis di enam dusun, membangun rumah edukasi yang dilengkapi taman baca, serta fasilitas kesehatan.

Langkah berani ini tidak hanya mempermudah urusan birokrasi, tetapi membuka jendela dunia bagi anak-anak desa melalui ratusan titik internet aktif. Gagasan progresif ini bahkan menjadi rujukan dan diadopsi oleh desa-desa lain melalui forum Musrenbang. Atas dedikasinya, Martha diganjar penghargaan sebagai Kepala Desa Pengelola Dana Desa Terbaik se-Jawa Timur tahun 2023.

HotExpose:  Tinjau TMMD 127 Sumenep, Tim Wasev Apresiasi Capaian dan Sinergi

Cinta pada Literasi: Menulis adalah Cara Memahami Dunia

Jauh sebelum duduk di kursi kepemimpinan, hati Martha sudah terpaut pada dunia tulis-menulis sejak SMA. Baginya, menulis adalah cara memahami kehidupan sekaligus berbagi gagasan. Dari ketekunannya, lahir sejumlah karya fiksi seperti Cinta Naura, Telepon Hantu, Radio, dan Lemari Hantu.

“Prosesnya panjang. Naskah disunting berulang kali melalui komunitas literasi. Bahkan cetakan awal buku saya hanya sekitar 20 eksemplar. Tapi dari situ saya belajar untuk terus memperbaiki diri,” kenangnya saat berbincang dengan Madura Expose, Rabu (18/02/2026).

Pesan untuk Gen Z: Belajar Hingga Liang Kubur

Kini, meski masa jabatannya sebagai Kades telah usai, pengabdian Martha berlanjut di ranah politik sebagai Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso. Namun, misi utamanya tetap sama: mengampanyekan pentingnya literasi bagi generasi muda.

“Gen Z harus gemar membaca dan menulis. Dengan membaca kita mengetahui banyak hal, dan dengan menulis kita bisa menyebarkan ilmu,” tegasnya. Baginya, belajar adalah proses yang tidak pernah usai. “Belajar, belajar, dan terus belajar hingga liang kubur,” pungkasnya.***

Penulis Red./Editor: Ferry Arbania | Madura Expose Layanan Pembaca: Ingin menyampaikan aspirasi atau opini mengenai kebijakan pemerintah? Kirimkan melalui email resmi kami di: maduraexposenews@gmail.com

"Dewan Redaksi" MADURA EXPOSE

Gambar Gravatar
www.maduraexpose.com | Mengawal Kepastian Hukum

No More Posts Available.

No more pages to load.