SUMENEP – Dunia militer internasional kini tertuju pada “Titik Nol” di Pentagon. Pasca-kabar wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, kalkulasi Barat tentang keruntuhan sistem komando di Tehran ternyata menemui jalan buntu. Mengapa negara yang ditekan embargo berlapis selama puluhan tahun ini justru terlihat semakin solid secara administratif militer?
Secara Teori Administrasi Publik Militer, Iran telah lama menerapkan sistem decentralized command (komando desentralistik). Struktur Garda Revolusi (IRGC) dirancang untuk tidak bergantung pada satu figur tunggal, melainkan pada ideologi yang telah melembaga secara kuat dalam birokrasi pertahanan mereka.
Logika Intelijen vs Realitas Anggaran Analis geopolitik menyebut bahwa dunia kini masuk dalam fase “politik realisme” yang brutal. Pentagon mungkin berhasil melakukan tekanan psikologis, namun mereka menghadapi ribuan “kepala” dalam bentuk proksi yang tersebar di seluruh Timur Tengah. Inilah yang membuat pasar global tetap waswas, dan harga minyak dunia terus bergejolak di angka yang tidak rasional.
Bagi Indonesia, ketidakpastian di “Titik Nol” ini bukan sekadar tontonan di layar gawai. Ini adalah sinyal Perang Anggaran. Ketika Pentagon membakar triliunan dolar untuk operasi militer, efek domoninya adalah pelemahan nilai tukar Rupiah yang pada akhirnya mencekik daya beli masyarakat di daerah, termasuk di pelosok Madura. [tim/gim/fer]







